Jumat, 24 November 2017

Di Bawah Langit-Langit yang Sama

Selepas wisuda (April), aku menganggap bahwa Mei dan Juni (2017) adalah masa-masa terakhirku di Yogyakarta. Study masterku sudah rampung dan saatnya untuk pulang ke Bengkulu, birul walidain (bahasa kerennya).

Maka, saat resmi bergelar sebagai pengangguran, aku menggunakan kesempatan itu untuk mengikuti berbagai event ruhiyah yang diadakan di masjid-masjid Jogja (sekaligus mempersiapkan ruhiyah menyambut bulan Ramadhan). Karena aku tahu, di Bengkulu belum tentu aku bisa menemukan event yang sama. Aku pun tak tahu, kapan aku bisa menikmati kajian dan Ramadhan di Jogja [lagi].

Barangkali Ramadhan 1438 H adalah Ramadhan terakhirku di Yogyakarta, dan bisa jadi Ramadhan terakhir selama hidupku. Alhamdulillah, saat itu ada kegiatan Qur’an Camp yang diadakan oleh Lembaga Dakwah Kampus (LDK) UNY.

Aku mendaftar di kelas tahfidz. Setelah mengikuti serangkaian test, Allah mengizinkan ku untuk mengikuti kegiatannya.

Di hari pertama, aku mencoba untuk menambah hapalan baru, tapi rasanya sulit sekali. Musyrifah menganjurkanku untuk muroja’ah dan memperkuat hapalan lama (yang memang mulai hilang-hilang.. #astaghfirullah)

Malamnya, selepas setoran dan mendengarkan kajian, para akhwat (saudara perempuan #jamak) tidur di lantai 2. Aku akui aku sangat lelah waktu itu. Euforia tesis masih kental sekali terasa. Tidur menjadi tak sehat, aku sangat gampang ngantuk dan tertidur walaupun dalam posisi duduk sekalipun. Hehe.

Di lantai 2, wajah kuhadapkan ke langit-langit Masjid Mujahidin UNY. Aku merenungi malam-malamku. Merutuki hapalan yang tak kunjung bertambah dan kuat.

Aku mencoba menutup malam dengan mengingat-ingat memori selama di Jogja. “Aku pasti akan sangat merindukan Jogja,” pikirku.

Aku belajar untuk tidak mengkhwatirkan masa depanku, tapi hati ku kadang penasaran, “Kemanakah Allah akan mengarahkan kakiku selanjutnya untuk berpijak?” Air mataku menetes sendiri, mengingat berbagai nikmat yang telah Allah berikan. Benarlah firmannya dalam Qur’an Surah Luqman;
“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya kalimat Allah tidak akan habis dituliskan kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana" [QS 31:27]

“Aku pasti akan merindukan kajian di Jogja.”

“Aku pasti akan merindukan Annida.”

“Aku pasti akan merindukan UGM dan maskam.”

“Aku pasti akan merindukan masjid Mujahidin ini.”

“Aku pasti akan merindukan semua tentang Jogja.”

Banyak pertanyaan menari-menari di kepala ku, yang kemudian membawaku terbang dalam tidur.


**

September 2017, aku butuh me-time, selepas melaksanakan tugas yang diamanahkan dari pagi hingga siang hari. Aku duduk di sebelah tiang besar lantai 2 masjid, membaca mushaf kecilku sampai puas. Aku cukup lelah waktu itu, ku sandarkan punggungku ke tiang masjid dan ku hadapkan wajah ke langit-langit.

Langit-Langit Lt.2 Masjid Mujahidin UNY.
Seketika, aku ingat malam itu, malam di bulan Mei (empat bulan yang lalu). Aku tidur di bawah langit-langit masjid yang sama, langit-langit Masjid Mujahidin. Dan iya!! Aku kembali lagi ke Jogja!! Jogja yang kucintai karena Islamnya!

…. Haru pun datang. Aku ingat semua pertanyaanku malam itu. Sungguh, Allah Maha Baik. Seolah Dia ingin menunjukkan padaku, betapa mudahnya segala sesuatu itu terjadi atas izin-Nya.

Hijaunya langit-langit lantai 2 Masjid Mujahidin membuatku menyelam lebih dalam akan surat cinta-Nya “Nikmat Allah yang mana yang mampu kau dustakan?”

Sabtu, 18 November 2017

Hijrah Jaman Now

Teman Hijrah

“Maaf ya Voe. Jangan tersinggung. Dulu aku benciiiiii banget sama kamu. Benci dengan jilbab kamu. Benci sama pakaian yang kamu pakai. Benciii sekali.” Kata seorang muslimah berkerudung panjang di hadapanku saat kami sedang makan mie ayam. Aku tersenyum, lalu tertawa.

“Jujur ya Voe. Aku dulu gak suka banget loh sama ukhti-ukhti jilbaban panjang kayak kamu. Pas tahu ada kamu atau kamu lewat. Beeh.. rasanya males banget.” Kata seorang teman yang lain saat kami sedang bepergian bersama.

Tidak sekali dua kali teman-temanku memberikan pengakuan seperti ini. Aku senyum cengengesan ketika mendengar kalimat-kalimat seperti ini muncul dari lisan mereka. Aku melempar masa, masa dimana aku sama dengan mereka, yang pernah tak suka dengan perempuan-perempuan berjilbab syar’i.

Lalu, syukur kurasakan penuh dekap. Sungguh, Allah Maha Pembolak-balik hati. Tak pernah menyangka, sejak sepuluh tahun lalu (awal 2007) hingga detik ini (dan semoga selalu istiqomah), aku masuk ke dalam barisan mereka, perempuan-perempuan berjilbab panjang.

Menjadi seorang muslimah adalah anugrah. Diberikan kesempatan untuk merasakan nikmatnya berpakaian syar’i adalah hidayah.

Apa kau kira menjadi muslimah (yang mencoba belajar taat) itu gampang?

Allah dalam surat cinta-Nya berfirman, 
"Apakah manusia mengira setelah mereka mengikrarkan dirinya bahwa dia beriman, lantas mereka dibiarkan tidak diuji? Sungguh, orang-orang yang terdahulu pun telah Kami uji. Yang dengan ujian ini, maka akan teranglah siapa yang jujur dalam pengakuan imannya, dan siapakah yang dusta." [QS. Al-Ankabur: 2-3]

Dibenci, difitnah, dijauhi, rasanya adalah makanan kami sehari-hari. Dulu bahkan hingga saat ini. Kadang terselip iri dengan para ikhwan, ‘Mereka mah enak, pakaiannya fleksibel banget, gaulnya juga fleksibel. Sedang kami? Mau masuk ke ranah manapun dan bergaul dengan siapapun, kami ya harus begini (berpakaian syar’i)’.

Tapi…

Yang namanya hijrah memang selalu ada warnanya, dan gak mudah tentunya. Rasulullah saw hijrah dari Mekkah ke Madinah dalam keadaan terancam dan diburu. Dan tentu, pengalaman hijrahku belum ada apa-apanya dibanding dengan Rasulullah dan para sahabat.

Aku…

Saat memutuskan untuk hijrah dan berjilbab mendapatkan penolakan dari mamahku. Dimarahin, iya. Diomelin, iya. Ditakut-takutin, apa lagi! Tapi, yang namanya hijrah kata guru ngajiku, gak ada ujiannya bagai sayur tanpa garam. Hambar… #ecieee

Minggu, 29 Oktober 2017

Digital Parenting : Menjadi Orang Tua Baik di Era Digital

Dalam rangka Dies Natalis FISIPOL Ke-67, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) juga turut ambil bagian untuk menyukseskannya dengan membuat Festifal Literasi Digital #FIRAL. Festifal ini berlangsung tanggal 15 Oktober 2017 di Convention Hall, Gedung FISIPOL UGM. 

Rangkaian acara terdiri dari Creatalks, yaitu seminar dan talkshow menjadi produktif dengan konten yang positif dan kreatif. Pembicaranya mulai dari Pak Menteri Kominfo, Rektor UGM, Dekan FISIPOL, Praktisi, dan Akademisi. Kegiatan selanjutnya adalah Masterclass, kelas aktif dengan materi pengajaran dari mentor profesional di bidangnya.

Materclass terdiri dari empat kelas dengan tema yang berbeda. Keempatnya dilaksanakan di waktu dan lokasi yang sama, namun di ruangan yang terpisah.

Kelas 1 – Workshop KIDi -. Tema : Be Amazing with Infographic Thingking, yang langsung dibersamai oleh master coach Dhonny Firmansyah, seorang pakar slide presentasi dan infografis dari kreasipresentasi.com. Sehemat pemahaman saya, workshop ini akan mengajari pesertanya agar dapat membuat presentasi yang kreatif dan inovatif.

Kelas 2 – Indonesiabaik.id – Tema : Be Productive in 60 seconds with ur Smartphone. Pengajarnya : Iqbal Rezeki Awal, seorang Cyber Creator dari Pramuka yang akan mengajarkan bagaimana membuat konten dalam 60 detik. Saya sempat stalking ke websitenya saat mencari informasi tentang apa yang akan diajarkan di kelas ini. Di indonesiabaik.id saya menemukan berbagai macam konten positif yang dikemas dengan animasi digital yang menarik. Menurut hemat saya, kelas ini sangat cocok bagi anak muda yang tertarik dalam desain animasi.

Kelas 3 – INCAKAP – Tema : Digital Parenting, yang dibersamai langsung oleh Hilman Al-Madani- psikolog dan Trainer dari Yayasan Kita dan Buah Hati. Di kelas ini Pak Hilman akan memberikan tips menjadi orang tua yang baik di era digital. Kelas ini sangat cocok untuk diikuti oleh semua kalangan, wabilkhusus orang tua, guru, dan siapa saja yang berhubungan dengan dunia anak-anak.

Kelas 4 – Siberkreasi – Tema : How to be Rich at Young Age in Digital Era. Pengajar : Gerald Sebastian seorang co-founder kokbisa.com yang akan mengajarkan bagaimana menjadi kaya dan berpenghasilan di usia muda melalui digital.

Sabtu, 28 Oktober 2017

S3 di Luar Negeri? Why Not!

Mau ke negara mana?
Sejak awal menjadi salah satu dosen muda di UNY, kami selalu dimotivasi (baca : paksa) untuk segera lanjut studi S3. Katanya, mumpung masih muda. UNY ingin kami segera berikhtiar untuk mendapatkan beasiswa apa saja, asal dapat berkuliah di kampus-kampus terbaik di bumi ini.

Siapa sih yang tidak mau study lanjut ke luar negeri? Apalagi gratisan. Sedari awal, orang tua sudah memberi lampu hijau berupa izin dunia akhirat, jika aku bisa tembus studi ke luar negeri. Hehe.. Tapi, barangkali memang effortku yang belum maksimal. Bahasa Inggris yang notabennya sebagai bahasa pengantar pun aku masih gak jelas begini. #melipirketembok

Pengen banget rasanya tinggal di negara, dimana namaku bukan nama yang aneh dan asing bagi penduduk negara tersebut. Well, setidaknya ketika mereka mendengar kata “Voettie Wisataone”, mereka tidak berasa unik gitu. Apalagi sampai ditanya-tanya, "arti namanya apa? kok namanya begitu? kenapa, loh, why, pasti orang tuanya dulu begini dan bla bla bla..." Hehe…

Menjadi Korban Perceraian, Bukan Pilihan

“Terlahir dari keluarga yang broken home bukanlah keinginan kami. Kami adalah korban.” Temanku bercerita sambil meneteskan air mata. Hatiku gemuruh. Tanpaku sadari, air mataku ikut jatuh. Benar. Tak ada seorang pun yang menginginkan orang tua mereka berpisah. Bahkan dipisahkan kematian sekalipun. Tapi, jika perceraian sudah menjadi pilihan dan Allah setujui, kita bisa apa?

Menjadi Korban Perceraian, Bukan Pilihan
Kalimat yang dilontarkan temanku tadi mengingatkanku pada teman-temanku yang lain. Satu persatu wajah mereka terlintas begitu saja. Ada yang terlahir dari ibu yang keras kepala. Tiga kali gagal dengan pernikahan dan akhirnya memilih menjanda. Si Ibu bahkan menjadikan temanku, perempuan bertubuh mungil itu sebagai tulang punggung keluarga. Membiayai semua kebutuhan (baca: keinginan) sang Ibu dan membiayai semua kebutuhan perkuliahan sang Adik.

“Alhamdulillah… Voe.. Alhamdulillah Allah kasih aku keahlian untuk nulis. Bahasa inggris yang baik. Aku gak boleh ngeluh. Aku masih bisa usaha dengan kedua belah tanganku untuk ngirimin ibuku duit.” Begitu katanya sebelum kami berpisah pasca wisudanya. Di balik pagar, haru menyeruak memenuhi hati. Terlalu, jika aku tak qonaah dengan semua yang Allah berikan.

Kamis, 12 Oktober 2017

Pertanyaan Aspek Mendasar Menuju Pernikahan

Membangun sebuah keluarga sakinah, mawaddah, wa rohma berorientasi akhirat tentulah menjadi dambaan setiap insan. Salah satu ikhtiar dalam membangun keluarga surgawi itu adalah dengan mempersiapkan diri sebaik mungkin. Persiapan apa yang perlu menjadi pertimbangan para single?

Ustad Cahyadi Takariwan dalam Kajian Pra Nikah di Masjid Nurul Ashri Yogyakarta menjawab dengan membaginya dalam dua pertanyaan penting. Pertama, tentang Pertanyaan Aspek Mendasar dan kedua Pertanyaan Aspek Kesiapan yang masing-masing terdiri dari 10 pertanyaan.

Foto Pernikahan Ukhti Marliah (salah satu personil brigade 09)
source : FB Marlia

Pertanyaan Aspek Mendasar

Jumat, 29 September 2017

10 Detik Menelpon Aku di Masa Lalu


Apa yang akan kamu katakan jika kamu memiliki 30 detik untuk menelpon dirimu sendiri 5 tahun yang lalu?

Mendapatkan pertanyaan ini aku mencoba mengingat-ingat masa lima tahun lalu, saat umur masuk 21 tahun. Semester tujuh, baru selesai KKN dan masa transisi ditolak magang. September akhir, aku dan lima orang temanku sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan diri untuk mengikuti Olimpiade Koperasi Nasional (OKN) yang akan dilaksanakan bulan November 2012.

Akan kuluruskan makna dari “mempersiapkan diri”. Kami tidak hanya mempersiapkan diri untuk mengikuti perlombaan dengan belajar dan menghapal undang-undang serta kebijakan baru terkait koperasi. Tapi, kami juga harus mempersiapkan diri untuk mencari sponsor keberangkatan kami ke Yogyakarta. Dua kerjaan sekaligus.

Tahun 2012, Kopma Unib mengalami guncangan “pesimis” pasca terbitnya berita berjudul “KOPMA KURANG DIMINATI” di harian terbesar di Provinsi Bengkulu. Aku merasa ditampar. Malu. Sebab, foto brand “KOPMA UNIB” yang ku gambar sendiri dengan tanganku beserta warung mini Kopma, dicetak besar di koran itu. Padahal waktu itu, setahun pasca bangkitnya Kopma dari tidur panjang (14 tahun), aku dan tim berusaha membangun citra yang baik dan positif di depan semua orang.

27 nih, Kapan Nikah?

“ Apa lagi yang dicari? ” Tanya sopir go-car  padaku saat aku menumpang mobilnya untuk diantar ke hotel dimana sepupuku dan suaminya meng...