Tampilkan postingan dengan label note. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label note. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Oktober 2017

Menjadi Korban Perceraian, Bukan Pilihan

“Terlahir dari keluarga yang broken home bukanlah keinginan kami. Kami adalah korban.” Temanku bercerita sambil meneteskan air mata. Hatiku gemuruh. Tanpaku sadari, air mataku ikut jatuh. Benar. Tak ada seorang pun yang menginginkan orang tua mereka berpisah. Bahkan dipisahkan kematian sekalipun. Tapi, jika perceraian sudah menjadi pilihan dan Allah setujui, kita bisa apa?

Menjadi Korban Perceraian, Bukan Pilihan
Kalimat yang dilontarkan temanku tadi mengingatkanku pada teman-temanku yang lain. Satu persatu wajah mereka terlintas begitu saja. Ada yang terlahir dari ibu yang keras kepala. Tiga kali gagal dengan pernikahan dan akhirnya memilih menjanda. Si Ibu bahkan menjadikan temanku, perempuan bertubuh mungil itu sebagai tulang punggung keluarga. Membiayai semua kebutuhan (baca: keinginan) sang Ibu dan membiayai semua kebutuhan perkuliahan sang Adik.

“Alhamdulillah… Voe.. Alhamdulillah Allah kasih aku keahlian untuk nulis. Bahasa inggris yang baik. Aku gak boleh ngeluh. Aku masih bisa usaha dengan kedua belah tanganku untuk ngirimin ibuku duit.” Begitu katanya sebelum kami berpisah pasca wisudanya. Di balik pagar, haru menyeruak memenuhi hati. Terlalu, jika aku tak qonaah dengan semua yang Allah berikan.

Kamis, 12 Oktober 2017

Pertanyaan Aspek Mendasar Menuju Pernikahan

Membangun sebuah keluarga sakinah, mawaddah, wa rohma berorientasi akhirat tentulah menjadi dambaan setiap insan. Salah satu ikhtiar dalam membangun keluarga surgawi itu adalah dengan mempersiapkan diri sebaik mungkin. Persiapan apa yang perlu menjadi pertimbangan para single?

Ustad Cahyadi Takariwan dalam Kajian Pra Nikah di Masjid Nurul Ashri Yogyakarta menjawab dengan membaginya dalam dua pertanyaan penting. Pertama, tentang Pertanyaan Aspek Mendasar dan kedua Pertanyaan Aspek Kesiapan yang masing-masing terdiri dari 10 pertanyaan.

Foto Pernikahan Ukhti Marliah (salah satu personil brigade 09)
source : FB Marlia

Pertanyaan Aspek Mendasar

Jumat, 29 September 2017

10 Detik Menelpon Aku di Masa Lalu


Apa yang akan kamu katakan jika kamu memiliki 30 detik untuk menelpon dirimu sendiri 5 tahun yang lalu?

Mendapatkan pertanyaan ini aku mencoba mengingat-ingat masa lima tahun lalu, saat umur masuk 21 tahun. Semester tujuh, baru selesai KKN dan masa transisi ditolak magang. September akhir, aku dan lima orang temanku sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan diri untuk mengikuti Olimpiade Koperasi Nasional (OKN) yang akan dilaksanakan bulan November 2012.

Akan kuluruskan makna dari “mempersiapkan diri”. Kami tidak hanya mempersiapkan diri untuk mengikuti perlombaan dengan belajar dan menghapal undang-undang serta kebijakan baru terkait koperasi. Tapi, kami juga harus mempersiapkan diri untuk mencari sponsor keberangkatan kami ke Yogyakarta. Dua kerjaan sekaligus.

Tahun 2012, Kopma Unib mengalami guncangan “pesimis” pasca terbitnya berita berjudul “KOPMA KURANG DIMINATI” di harian terbesar di Provinsi Bengkulu. Aku merasa ditampar. Malu. Sebab, foto brand “KOPMA UNIB” yang ku gambar sendiri dengan tanganku beserta warung mini Kopma, dicetak besar di koran itu. Padahal waktu itu, setahun pasca bangkitnya Kopma dari tidur panjang (14 tahun), aku dan tim berusaha membangun citra yang baik dan positif di depan semua orang.

Kamis, 21 September 2017

Euforia Tesis. Laluilah dan Kau Kan Merindukannya!

Membaca status teman-teman tentang tesis dan melihat perilaku mereka saat sibuk bertesis ria. Aku ingat masa-masa sekitar 8 bulan yang lalu, saat masih menjadi pejuang tesis. Aku mulai fokus mengerjakan tesis saat lepas amanah di KWU HMP UGM, tepatnya bulan Januari 2017.

Bagi sebagian orang ‘sisa’ tesis adalah insomnia, maka ‘sisa’ tesis bagiku adalah ‘tidur tak sehat”. Menjadi pejuang tesis memang nano-nano. Aku lupa sudah berapa kali menangis, ketika lelah datang bertubi-tubi. Aku pun lupa sudah berapa kali lupa makan, hingga alarm di perut protes meminta hak. Parahnya, alarm seringkali berbunyi ketika aku sedang sholat jama’ah di Annida, bahkan kala menjadi imam. Beruntungnya, kadang ada saja warga Annida yang mengantar cokelat, membuatkan minum, membawakan snack, dan menggantung makanan di cangklengan pintu.

Tesis banyak mengajarkan sesuatu padaku. Saat aku berada di puncak ingin berhenti saja, aku mulai self motivation dengan menuliskan halaman persembahan untuk tesisku. Tujuannya agar ketika hasrat menyerah ini muncul, maka aku ingat bahwa bangkit adalah wajib! Begini sekiranya halaman persembahan yang kutulis, dan akhirnya tinggal ku copas di halaman persembahan tesisku;

Moment haru biru itu, saat membuat halaman persembahan. hehe
Membaca halaman persembahan seringkali membuatku meneteskan air mata,

Sebuah karya ini bernama tesis. Isinya boleh jadi tentang komunikasi dan pemasaran. Tapi maknanya lebih dari sekedar komunikasi dan pemasaran. Di baliknya ada bahagia, ada tawa, ada luka, ada air mata, ada emosi, ada pengharapan, ada penantian, ada pengorbanan, dan ada doa.”

Minggu, 17 September 2017

Penundaan Studi, Accepted!!



Jika mengingat masa-masa crowded akhir Juli lalu, rasanya bersyukur sekali dengan ketetapan Allah atas segala rencana yang sudah tersusun. Galau. Begitulah sekiranya kegundahaan hati dan pikiran, saat harus memutuskan lanjut studi atau pending. #cieee

Alhamdulillah menjelang pulang ke Bengkulu (pertengahan Juni), selama dua hari, aku mengurus semua persyaratan untuk studi S3. Pengurusan persyaratannya cukup menguras energi dan pikiran, tapi Allah mempermudah semua prosesnya (persyaratan untuk studi lanjut di UGM, bisa baca di sini). Bagiku waktu itu, melanjutkan studi S3 di UGM akan menjadi ‘alasan’ untuk kembali ke Yogyakarta. #gagalmoveon. 

Pertengahan Juli, surat pemberitahuan hasil Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru Program Pascasarjana S3 Semester Gasal T.A. 2017/2018 menyatakan bahwa aku DITERIMA sebagai mahasiswa di Program Studi S3 Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan UGM. Sehingga, aku wajib melakukan registrasi sesuai dengan Pengumuman Rektor.

Minggu, 10 September 2017

Menanti Jodoh yang Telah Pasti

“Jika seorang muslimah harus bepergian bersama mahromnya (pada kasus berhaji). Lantas, bagaimana dengan muslimah perantau yang melanjutkan studi tanpa mahrom dan jauh dari keluarga?”
Kurang lebih begitu pertanyaan yang ditulis seorang jama’ah wanita (akhwat) saat Kajian Tasqif di Masjid Nurul Barokah. Pertanyaan ini ditujukan untuk pembicara kami pagi ini, Ustad Solihun al-hafidz, dai Yogyakarta yang Sabtu pagi tadi membahas tentang Peristiwa Haji sebagai Peristiwa Tauhid.

Sebenarnya, banyak materi yang lebih penting yang disampaikan oleh Ustad Solihun terkait Peristiwa Haji. Tapi, pertanyaan jama’ah ini membuatku ‘baper’ sejenak. Aku pernah mendengarkan pertanyaan serupa dari salah saorang peserta kajian dan dijawab lugas oleh sang Ustad.

Jumat, 08 September 2017

Perbedaan Dosen Luar Biasa, Dosen Kontrak dan Dosen Tetap

Pic : 1 dari 1000, foto by Voe
Sebelum menjadi seorang tenaga pengajar, saya masih belum mengetahui perbedaan antara dosen luar biasa, dosen kontrak, dan dosen tetap. Selama masa seleksi, saya searching dan menemukan beberapa artikel yang sebagian dapat menjawab pertanyaan saya, namun, untuk beberapa hal ada yang masih belum saya paham. Alhamdulillah, setelah ‘tercebur’ langsung ke dunia ‘perdosenan’, saya mulai memahami perbedaannya. Di bawah ini saya menulis artikel tentang perbedaan dosen luar biasa, dosen kontrak, dan dosen tetap. Semoga teman-teman yang masih penasaran dapat sedikit tercerahkan, ya!

Pada intinya setiap dosen (tenaga pengajar profesional), diberikan tugas untuk melalukan tridharma perguruan tinggi, yaitu kewajiban Perguruan Tinngi untuk menyelenggarakan Pendidikan, Penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, sesuai dengan UU No.12 tahun 2012, pasal 1 ayat 9. Bedanya, setiap dosen memiliki proporsional sendiri terkait dengan status dosen yang disandang. Berikut saya paparkan beberapa perbedaan dosen luar biasa, dosen kontrak, dan dosen tetap;

27 nih, Kapan Nikah?

“ Apa lagi yang dicari? ” Tanya sopir go-car  padaku saat aku menumpang mobilnya untuk diantar ke hotel dimana sepupuku dan suaminya meng...