Membaca status teman-teman tentang tesis dan melihat
perilaku mereka saat sibuk bertesis ria. Aku ingat masa-masa sekitar 8 bulan
yang lalu, saat masih menjadi pejuang tesis. Aku mulai fokus mengerjakan tesis
saat lepas amanah di KWU HMP UGM, tepatnya bulan Januari 2017.
Bagi sebagian orang ‘sisa’ tesis adalah insomnia, maka
‘sisa’ tesis bagiku adalah ‘tidur tak sehat”. Menjadi pejuang tesis memang
nano-nano. Aku lupa sudah berapa kali menangis, ketika lelah datang
bertubi-tubi. Aku pun lupa sudah berapa kali lupa makan, hingga alarm di perut
protes meminta hak. Parahnya, alarm seringkali berbunyi ketika aku sedang
sholat jama’ah di Annida, bahkan kala menjadi imam. Beruntungnya, kadang ada
saja warga Annida yang mengantar cokelat, membuatkan minum, membawakan snack,
dan menggantung makanan di cangklengan pintu.
Tesis banyak mengajarkan sesuatu padaku. Saat aku berada di
puncak ingin berhenti saja, aku mulai self motivation dengan menuliskan
halaman persembahan untuk tesisku. Tujuannya agar ketika hasrat menyerah ini
muncul, maka aku ingat bahwa bangkit adalah wajib! Begini sekiranya halaman
persembahan yang kutulis, dan akhirnya tinggal ku copas di halaman persembahan
tesisku;
![]() |
| Moment haru biru itu, saat membuat halaman persembahan. hehe |
Membaca halaman
persembahan seringkali membuatku meneteskan air mata,
“Sebuah karya ini
bernama tesis. Isinya boleh jadi tentang komunikasi dan pemasaran. Tapi
maknanya lebih dari sekedar komunikasi dan pemasaran. Di baliknya ada bahagia,
ada tawa, ada luka, ada air mata, ada emosi, ada pengharapan, ada penantian,
ada pengorbanan, dan ada doa.”
Ada sembilan rasa (bahkan
lebih) yang kudapatkan kala berjuang menulis tesis. Rasa-rasanya memang
sulit dilalui seorang diri. Kala raga dan pikiran sudah letih, aku sering
membayangkan mengetuk pintu kamar orang tua. Membawa bantal dan izin tidur
bersama mereka. Memeluk mereka, menangis di pelukannya dan akhirnya tertidur.
Tapi, Jogja-Bengkulu tentulah jarak yang tak terjangkau selayaknya posisi
kamarku dan kamar mereka.
Kadang, aku pula berharap
mendapatkan teman. Teman istimewa yang selalu ada waktu untuk diajak berdiskusi
di perpustakaan. Mendiskusikan tentang tesis, analisis, dan semua ruang
lingkupnya, sambil menikmati secangkir coklat atau kopi hangat ala perpustakaan
lantai dua. Aku tersenyum jika mengingatnya. Harapan yang barangkali bukan
hanya milikku seorang kala itu. Ini adalah harapan para jomblo-jomblo
fisabilillah yang terkarangkeng di dalam kesibukan tesis. Waktu kulalui,
seorang diri, mencari posisi paling nyaman di perpustakaan. Kadang pernah kecewa
ketika mulai diusir pengeras suara, karena perpustakaan akan ditutup. Duh dulunya
sangat berharap perpustakaan bisa buka 24 jam.
“Dari sini aku belajar untuk merendam
ego. Menyadari bahwa hati ini keras menantang ilmu, lalu Allah ajarkan bahwa
ilmu hanya merindu hati yang lembut. Maka, kucuba tuk ikhlas menerima setiap
petuah-petuah ilmu.”
Paragraf itu kutulis ketika aku menyadari bahwa
bersabar dengan diri sendiri, bersabar menahan egoisme diri adalah solusi untuk
masuknya ilmu. Aku barangkali berkata “Iya” ketika pembimbing mengarahkan
tesisku untuk direvisi begini dan begitu, tapi hatiku berkata “Tidak”. Aku
terlalu banyak mengeluh. Aku merasa punyaku benar. Aku merasa inilah yang
terbaik. Lalu, Allah ajarkan bahwa kerasnya hati akan mementalkan ilmu-ilmu
itu.
“Karya ini
kupersembahkan pada mereka yang tak pernah letih mendoakan dan mendukung segala
asa, Mamaku, Asniawati, ibu yang ridho kutumpangi rahimnya, yang mendidikku
sejak dalam kandungan hingga sekarang. Papaku, Dirhan Jusah, ayah yang
melapangkan dadanya untuk menerima pelukan anak-anaknya dan selalu berusaha
mencukupi kebutuhan anak-anaknya.”
“Kuliahlah. Dengan atau tanpa
beasiswa!” Kata Papa padaku waktu meyakinkanku agar registrasi masuk UGM. Aku
pernah berikhtiar memperjuangkan beasiswa LN dari pemerintah suatu negara,
barangkali memang belum saatnya bagi Allah. Tapi, motivasi orang tua memang
sangat mampu mengubah banyak pertimbangan.
Mama dan Papaku bukan orang kaya
raya. Mereka orang tua yang sederhana tapi sangat peduli dengan pendidikan
anak-anaknya. Aku besar dari sepasang pendidik, dari kecil aku sudah terbiasa
dengan nuansa sekolah dan kampus. Bahkan ketika mama hamil besar, beliau tetap
mengajar. Tabarakallah.
Tekad mereka membiayai studi
S2ku, membuatku harus memberi sesuatu untuk mereka. Aku memang tak punya uang.
Tapi, awal studi aku sudah meniatkan diri untuk menjadi anak yang baik,
semangat kuliah dan ikut kajian, belajar mengaji dengan memperbaiki bacaan Qur’an
dan menambah hapalan (walaupun hapalannya gak nambah-nambah… hiks.).
Tujuannya agar belajar serta merantau ini berkah dan pahalanya kembali untuk
orang tua. Well, tentulah besar investasi orang tua dalam menyekolahkanku di
Yogyakarta. Tempat tinggal, biaya hidup bulanan, biaya perjalanan, biaya
penelitian, biaya tesis, dan lainnya. Jika ingat perjuangan mereka, bagaimana
mungkin aku tega mengecewakan keduanya?!
“Serta
kudedikasikan pada dua orang saudara yang sangat menginspirasiku, Deoni
Vioneery, kakakku yang selalu yakin bahwa aku bisa. Adikku, Agung Rahmat, yang
selalu mendahulukan kebutuhanku daripada keinginannya. Serta keluarga baruku,
Kak Ayi Sanego (kakak Ipar) dan si solih kecil Kautsar Al-Jabbar.”
Tentulah banyak hal yang harus
dikorbankan ketika keputusan studi kami ambil. Kesenangan dua saudaraku adalah
korbannya. Pertengahan kuliah, kakak perempuanku di lamar dan menikah. Mereka
harus menyesuaikan dengan jadwal UTSku untuk melangsungkan pernikahan, agar aku
bisa pulang ke Bengkulu. Pun si adik yang harus banyak berhemat dan berkurang
jatah jajannya. Kadang aku sempat mendegar segelinting protes dari adik, tapi,
beruntungnya punya dia yang sangat pengertian.
“Untuk cita-cita
yang masih terukir indah,
-I’m the
profesional PR of Husband’s Corporate-“
Ehem… keputusan untuk studi
kuniatkan untuk ibadah, menaikkan derajat dimata Allah, dan sebagai penopang
karir ‘dia’ yang nanti akan membersamai. ‘Daripada berkarir untuk menopang
usaha atau perusahaan orang lain, mending menopang usaha suami sendiri.’ Kelakarku
ketika itu ,saat ada seorang teman yang bertanya, mengapa? ‘Instansi
atau perusahaan tanpa Public Relation itu bak sayur tanpa garam. Voe pengennya
ilmu manajemen komunikasi ini bermanfaat, tapi untuk orang dan tempat yang
tepat. Menjadi PR pribadi suami, dinafkahi dan digaji. Hahaha.’ Temanku
tersenyum, di atas sajadah Annida, dia berkomentar, ‘Kalau begitu, menikah
saja dengan CEO. Nah langsung minta jadi PRnya. Atau kamu kerja dulu di
perusahaan apa gitu, nanti nikah sama CEOnya.’ Ide dan pembicaraan ini
memang gila. Diawali dengan cerita tentang tesis yang belum tuntas, lalu
berakhir dengan rencana-rencana setinggi langit memang sering terlontar dari
mereka yang overtesis :P
Tapi, menuliskan coretan dan
impian itu memang ampuh adanya. Aku menulis kalimat “Voe, seriuslah dalam
belajar manajemen komunikasi, sebab kau adalah calon profesional PR of Husband’s
Corporate- di kamar, buku teks, dan buku catatan. Kalau lagi malas
belajar, baca jurnal, dan apalah-apalah… hehe.. kalimat ini bisa menjadi
re-charge untuk diri sendiri. Oiyaa… Tak perlu menjadi istri CEO kan untuk
menjadi seorang PR. Sama-sama berjuang diawal menikmati roler coster
hidup kata Pak Ridwan Kamil juga seru! Haha…
Lah sekarang jadi
dosen, gimana donk? Alhamdulillah
wa syukurilah. Justru menjadi dosen di administrasi perkantoran mengajarkan
banyak hal padaku yang tak kudapati saat di ilmu komunikasi. Allah Maha Asyik
dan Maha Tahu. Mensyukuri dan menikmati setiap moment saat ini adalah pilihan
terbaik menurutku.
“Dan untuk dia,
Ksatria Langit.” J
2013 lalu, di skripsiku,
aku menulis kalimat yang sama dengan kalimat terakhir di pembuka tesis 2017
ini. Haha… Empat tahun berlalu, belum ada nama yang menggantikan “Ksatria
Langit” di sana. Tapi, yakinku, dia akan datang disaat dan ditempat yang tepat.
Barangkali di bumi, kami belum bersapa. Tapi di langit, siapa tahu do’a-do’a
kami telah bersahutan. Wis… wis.. ojo baper… wkwkwk
Terakhir, mari mengingat
lagi nasihat Abi Syatori dalam ceramahnya, “Persiapkanlah kematianmu seindah
mungkin.” Dunia, tak kan habis dikejar, tanpa kita sadari bahwa kematian
tengah mengintai. Tetaplah bersabar dengan ujian tesis ya! Jadikan ia sebagai
wasilah untuk mendekat pada Allah. Tesis akan berlalu dan akan menjadi moment-moment indah untuk dikenang dan tak ingin diulang. hehe... Yang merasa sendirian, jauh dari orang tua dan jomblo, santeeee... jadikan Allah sebagai satu-satunya tempat bersandar. Doaku untuk kalian, para pejuang tesis yang
jomblo fisabilillah, “Semoga ketika wisuda, sudah punya pasangan halalnya.”
--
Voe, Jogja
210917

Tidak ada komentar:
Posting Komentar