Kamis, 21 September 2017

Euforia Tesis. Laluilah dan Kau Kan Merindukannya!

Membaca status teman-teman tentang tesis dan melihat perilaku mereka saat sibuk bertesis ria. Aku ingat masa-masa sekitar 8 bulan yang lalu, saat masih menjadi pejuang tesis. Aku mulai fokus mengerjakan tesis saat lepas amanah di KWU HMP UGM, tepatnya bulan Januari 2017.

Bagi sebagian orang ‘sisa’ tesis adalah insomnia, maka ‘sisa’ tesis bagiku adalah ‘tidur tak sehat”. Menjadi pejuang tesis memang nano-nano. Aku lupa sudah berapa kali menangis, ketika lelah datang bertubi-tubi. Aku pun lupa sudah berapa kali lupa makan, hingga alarm di perut protes meminta hak. Parahnya, alarm seringkali berbunyi ketika aku sedang sholat jama’ah di Annida, bahkan kala menjadi imam. Beruntungnya, kadang ada saja warga Annida yang mengantar cokelat, membuatkan minum, membawakan snack, dan menggantung makanan di cangklengan pintu.

Tesis banyak mengajarkan sesuatu padaku. Saat aku berada di puncak ingin berhenti saja, aku mulai self motivation dengan menuliskan halaman persembahan untuk tesisku. Tujuannya agar ketika hasrat menyerah ini muncul, maka aku ingat bahwa bangkit adalah wajib! Begini sekiranya halaman persembahan yang kutulis, dan akhirnya tinggal ku copas di halaman persembahan tesisku;

Moment haru biru itu, saat membuat halaman persembahan. hehe
Membaca halaman persembahan seringkali membuatku meneteskan air mata,

Sebuah karya ini bernama tesis. Isinya boleh jadi tentang komunikasi dan pemasaran. Tapi maknanya lebih dari sekedar komunikasi dan pemasaran. Di baliknya ada bahagia, ada tawa, ada luka, ada air mata, ada emosi, ada pengharapan, ada penantian, ada pengorbanan, dan ada doa.”

Ada sembilan rasa (bahkan lebih) yang kudapatkan kala berjuang menulis tesis. Rasa-rasanya memang sulit dilalui seorang diri. Kala raga dan pikiran sudah letih, aku sering membayangkan mengetuk pintu kamar orang tua. Membawa bantal dan izin tidur bersama mereka. Memeluk mereka, menangis di pelukannya dan akhirnya tertidur. Tapi, Jogja-Bengkulu tentulah jarak yang tak terjangkau selayaknya posisi kamarku dan kamar mereka.

Kadang, aku pula berharap mendapatkan teman. Teman istimewa yang selalu ada waktu untuk diajak berdiskusi di perpustakaan. Mendiskusikan tentang tesis, analisis, dan semua ruang lingkupnya, sambil menikmati secangkir coklat atau kopi hangat ala perpustakaan lantai dua. Aku tersenyum jika mengingatnya. Harapan yang barangkali bukan hanya milikku seorang kala itu. Ini adalah harapan para jomblo-jomblo fisabilillah yang terkarangkeng di dalam kesibukan tesis. Waktu kulalui, seorang diri, mencari posisi paling nyaman di perpustakaan. Kadang pernah kecewa ketika mulai diusir pengeras suara, karena perpustakaan akan ditutup. Duh dulunya sangat berharap perpustakaan bisa buka 24 jam.

 “Dari sini aku belajar untuk merendam ego. Menyadari bahwa hati ini keras menantang ilmu, lalu Allah ajarkan bahwa ilmu hanya merindu hati yang lembut. Maka, kucuba tuk ikhlas menerima setiap petuah-petuah ilmu.”

Paragraf itu kutulis ketika aku menyadari bahwa bersabar dengan diri sendiri, bersabar menahan egoisme diri adalah solusi untuk masuknya ilmu. Aku barangkali berkata “Iya” ketika pembimbing mengarahkan tesisku untuk direvisi begini dan begitu, tapi hatiku berkata “Tidak”. Aku terlalu banyak mengeluh. Aku merasa punyaku benar. Aku merasa inilah yang terbaik. Lalu, Allah ajarkan bahwa kerasnya hati akan mementalkan ilmu-ilmu itu.
“Karya ini kupersembahkan pada mereka yang tak pernah letih mendoakan dan mendukung segala asa, Mamaku, Asniawati, ibu yang ridho kutumpangi rahimnya, yang mendidikku sejak dalam kandungan hingga sekarang. Papaku, Dirhan Jusah, ayah yang melapangkan dadanya untuk menerima pelukan anak-anaknya dan selalu berusaha mencukupi kebutuhan anak-anaknya.”

“Kuliahlah. Dengan atau tanpa beasiswa!” Kata Papa padaku waktu meyakinkanku agar registrasi masuk UGM. Aku pernah berikhtiar memperjuangkan beasiswa LN dari pemerintah suatu negara, barangkali memang belum saatnya bagi Allah. Tapi, motivasi orang tua memang sangat mampu mengubah banyak pertimbangan.

Mama dan Papaku bukan orang kaya raya. Mereka orang tua yang sederhana tapi sangat peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Aku besar dari sepasang pendidik, dari kecil aku sudah terbiasa dengan nuansa sekolah dan kampus. Bahkan ketika mama hamil besar, beliau tetap mengajar. Tabarakallah.

Tekad mereka membiayai studi S2ku, membuatku harus memberi sesuatu untuk mereka. Aku memang tak punya uang. Tapi, awal studi aku sudah meniatkan diri untuk menjadi anak yang baik, semangat kuliah dan ikut kajian, belajar mengaji dengan memperbaiki bacaan Qur’an dan menambah hapalan (walaupun hapalannya gak nambah-nambah… hiks.). Tujuannya agar belajar serta merantau ini berkah dan pahalanya kembali untuk orang tua. Well, tentulah besar investasi orang tua dalam menyekolahkanku di Yogyakarta. Tempat tinggal, biaya hidup bulanan, biaya perjalanan, biaya penelitian, biaya tesis, dan lainnya. Jika ingat perjuangan mereka, bagaimana mungkin aku tega mengecewakan keduanya?!

“Serta kudedikasikan pada dua orang saudara yang sangat menginspirasiku, Deoni Vioneery, kakakku yang selalu yakin bahwa aku bisa. Adikku, Agung Rahmat, yang selalu mendahulukan kebutuhanku daripada keinginannya. Serta keluarga baruku, Kak Ayi Sanego (kakak Ipar) dan si solih kecil Kautsar Al-Jabbar.”

Tentulah banyak hal yang harus dikorbankan ketika keputusan studi kami ambil. Kesenangan dua saudaraku adalah korbannya. Pertengahan kuliah, kakak perempuanku di lamar dan menikah. Mereka harus menyesuaikan dengan jadwal UTSku untuk melangsungkan pernikahan, agar aku bisa pulang ke Bengkulu. Pun si adik yang harus banyak berhemat dan berkurang jatah jajannya. Kadang aku sempat mendegar segelinting protes dari adik, tapi, beruntungnya punya dia yang sangat pengertian.

“Untuk cita-cita yang masih terukir indah,
-I’m the profesional PR of Husband’s Corporate-“

Ehem… keputusan untuk studi kuniatkan untuk ibadah, menaikkan derajat dimata Allah, dan sebagai penopang karir ‘dia’ yang nanti akan membersamai. ‘Daripada berkarir untuk menopang usaha atau perusahaan orang lain, mending menopang usaha suami sendiri.’ Kelakarku ketika itu ,saat ada seorang teman yang bertanya, mengapa? ‘Instansi atau perusahaan tanpa Public Relation itu bak sayur tanpa garam. Voe pengennya ilmu manajemen komunikasi ini bermanfaat, tapi untuk orang dan tempat yang tepat. Menjadi PR pribadi suami, dinafkahi dan digaji. Hahaha.’ Temanku tersenyum, di atas sajadah Annida, dia berkomentar, ‘Kalau begitu, menikah saja dengan CEO. Nah langsung minta jadi PRnya. Atau kamu kerja dulu di perusahaan apa gitu, nanti nikah sama CEOnya.’ Ide dan pembicaraan ini memang gila. Diawali dengan cerita tentang tesis yang belum tuntas, lalu berakhir dengan rencana-rencana setinggi langit memang sering terlontar dari mereka yang overtesis :P

Tapi, menuliskan coretan dan impian itu memang ampuh adanya. Aku menulis kalimat “Voe, seriuslah dalam belajar manajemen komunikasi, sebab kau adalah calon profesional PR of Husband’s Corporate- di kamar, buku teks, dan buku catatan. Kalau lagi malas belajar, baca jurnal, dan apalah-apalah… hehe.. kalimat ini bisa menjadi re-charge untuk diri sendiri. Oiyaa… Tak perlu menjadi istri CEO kan untuk menjadi seorang PR. Sama-sama berjuang diawal menikmati roler coster hidup kata Pak Ridwan Kamil juga seru! Haha…

Lah sekarang jadi dosen, gimana donk? Alhamdulillah wa syukurilah. Justru menjadi dosen di administrasi perkantoran mengajarkan banyak hal padaku yang tak kudapati saat di ilmu komunikasi. Allah Maha Asyik dan Maha Tahu. Mensyukuri dan menikmati setiap moment saat ini adalah pilihan terbaik menurutku.

“Dan untuk dia, Ksatria Langit.” J

2013 lalu, di skripsiku, aku menulis kalimat yang sama dengan kalimat terakhir di pembuka tesis 2017 ini. Haha… Empat tahun berlalu, belum ada nama yang menggantikan “Ksatria Langit” di sana. Tapi, yakinku, dia akan datang disaat dan ditempat yang tepat. Barangkali di bumi, kami belum bersapa. Tapi di langit, siapa tahu do’a-do’a kami telah bersahutan. Wis… wis.. ojo baper… wkwkwk


Terakhir, mari mengingat lagi nasihat Abi Syatori dalam ceramahnya, “Persiapkanlah kematianmu seindah mungkin.” Dunia, tak kan habis dikejar, tanpa kita sadari bahwa kematian tengah mengintai. Tetaplah bersabar dengan ujian tesis ya! Jadikan ia sebagai wasilah untuk mendekat pada Allah. Tesis akan berlalu dan akan menjadi moment-moment indah untuk dikenang dan tak ingin diulang. hehe... Yang merasa sendirian, jauh dari orang tua dan jomblo, santeeee... jadikan Allah sebagai satu-satunya tempat bersandar. Doaku untuk kalian, para pejuang tesis yang jomblo fisabilillah, “Semoga ketika wisuda, sudah punya pasangan halalnya.”

--

Voe, Jogja
210917

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

27 nih, Kapan Nikah?

“ Apa lagi yang dicari? ” Tanya sopir go-car  padaku saat aku menumpang mobilnya untuk diantar ke hotel dimana sepupuku dan suaminya meng...