“Cinta. Terima Kasih. Maaf” Tiga kata sederhana kaya makna. Tiga kata yang membuat memoriku mampir ke beberapa bagian dari kisah hidupku.
---
![]() |
| 1st Social Experiment : Cinta, Terima Kasih, Maaf |
Aku membuka kelas Komunikasi D3 Sekretaris dengan memberikan social experiment mengenai kata ‘Cinta, Terima Kasih, Maaf’. Ketiga kata ini menjadi pengantar dari kelas komunikasiku. Mahasiswa harus menyampaikan kata cinta, terima kasih, dan maaf kepada orang tua atau wali yang telah membesarkan mereka.
[Mungkin] bagi sebagian orang, mengucapkan tiga kata tersebut mudah. Namun, bagi sebagian yang lain, mengucapkan ketiga kata tersebut, terlebih kepada orang tua itu tidak mudah. Malu, takut, gengsi. Begitu sekiranya hambatan yang dirasa.
Aku memberikan tantangan kepada mahasiswa untuk menyampaikannya kepada orang tua atau wali. Selama satu minggu, mereka harus menyampaikannya minimal tiga kali. Kemudian, menuliskan pengalaman, kesan, atau apa saja yang mereka dapatkan ke dalam sebuah paper.
Dari tulisan itu, aku berharap mereka dapat menjawabnya. Menjawab pertanyaan, mengapa tiga kata ini menjadi pengantar kelas komunikasiku? Mengapa?
Aku membaca paper yang mereka tuliskan dari hasil dari social experiment. Ada sekitar 70-an paper dan kubaca satu persatu. Sebagian besar paper membuatku tersenyum, sebagian kecil membuatku terharu, dan beberapa membuatku sedikit histeris dan meneteskan air mata.
Ada yang berhasil menjawab pertanyaanku melalui kisah-kisah yang mereka tuliskan setelah mengucapkan tiga kata ajaib ini ke orang tua mereka. Namun, aku yakin mereka belum sadar sepenuhnya mengapa aku memberikan social experiment ‘Cinta, Terima Kasih, Maaf’ sebagai pengantar kelas Komunikasi.

