Tampilkan postingan dengan label ruang belajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ruang belajar. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Maret 2018

Rangkaian Test Calon Dosen (2) : Tips Menghadapi Tes Microteaching Calon Dosen

Tes micro teaching merupakan salah satu dari serangkaian tes yang biasanya dipersyaratkan kampus untuk para calon dosen. Micro teaching adalah sebuah kegiatan simulasi belajar mengajar dimana seolah-olah kita adalah seorang dosen yang sedang mengajar.

Barangkali untuk lulusan non pendidikan, microteaching adalah sesuatu hal yang baru. Tapi, bukan tidak mungkin lulusan non pendidikan bisa menguasai panggung microteaching.

Di tulisan kali ini, berdasarkan request teman yang bertanya gimana menghadapi test microteaching untuk para calon dosen, maka saya coba tulis di sini.

Sebelumnya saya pernah microteaching dua kali (kampus swasta dan kampus negeri) yang cenderung umum (bukan kampus Islam). Tulisan ini berdasarkan pengalaman pribadi saya, serta cerita dari teman-teman yang pernah mengalami langsung.  Apa aja itu? Selamat membaca!

1. Berpikir Positif

Sering dengar jika microteaching hanyalah sebuah formalitas saja? Pernah berpikir jika sebenarnya sudah ada nama yang di-’pegang’ oleh para penguji dan Anda hanyalah peserta  ‘hore-hore’ yang menambah panjang daftar peserta seleksi? Jika hal ini sudah ada dibenak Anda, maka saran saya cobalah istighfar dan berpikirlah positif.

Hasil gambar untuk berpikir positif
Source : Berpikir Positif
Jika Anda sudah berpikir seperti itu sedari awal, lalu untuk apa Anda nekat melakukan tes administrasi hingga akhirnya lanjut ke tes microteaching? Barangkali ‘iya’ ada kampus yang melakukan rekrutmen untuk sekedar formalitas. Tapi, ketahuilah bahwa TIDAK SEMUA kampus seperti itu. Tidak semua kampus memberlakukan “ORANG DALAM”. hehe

Minggu, 18 Februari 2018

Social Experiment : Cinta, Terima Kasih, Maaf


“Cinta. Terima Kasih. Maaf” Tiga kata sederhana kaya makna. Tiga kata yang membuat memoriku mampir ke beberapa bagian dari kisah hidupku.

---

1st Social Experiment : Cinta, Terima Kasih, Maaf
Aku membuka kelas Komunikasi D3 Sekretaris dengan memberikan social experiment mengenai kata ‘Cinta, Terima Kasih, Maaf’. Ketiga kata ini menjadi pengantar dari kelas komunikasiku. Mahasiswa harus menyampaikan kata cinta, terima kasih, dan maaf kepada orang tua atau wali yang telah membesarkan mereka.

[Mungkin] bagi sebagian orang, mengucapkan tiga kata tersebut mudah. Namun, bagi sebagian yang lain, mengucapkan ketiga kata tersebut, terlebih kepada orang tua itu tidak mudah. Malu, takut, gengsi. Begitu sekiranya hambatan yang dirasa.

Aku memberikan tantangan kepada mahasiswa untuk menyampaikannya kepada orang tua atau wali. Selama satu minggu, mereka harus menyampaikannya minimal tiga kali. Kemudian, menuliskan pengalaman, kesan, atau apa saja yang mereka dapatkan ke dalam sebuah paper.

Dari tulisan itu, aku berharap mereka dapat menjawabnya. Menjawab pertanyaan, mengapa tiga kata ini menjadi pengantar kelas komunikasiku? Mengapa?

Aku membaca paper yang mereka tuliskan dari hasil dari social experiment. Ada sekitar 70-an paper dan kubaca satu persatu. Sebagian besar paper membuatku tersenyum, sebagian kecil membuatku terharu, dan beberapa membuatku sedikit histeris dan meneteskan air mata.

Ada yang berhasil menjawab pertanyaanku melalui kisah-kisah yang mereka tuliskan setelah mengucapkan tiga kata ajaib ini ke orang tua mereka. Namun, aku yakin mereka belum sadar sepenuhnya mengapa aku memberikan social experiment ‘Cinta, Terima Kasih, Maaf’ sebagai pengantar kelas Komunikasi.

27 nih, Kapan Nikah?

“ Apa lagi yang dicari? ” Tanya sopir go-car  padaku saat aku menumpang mobilnya untuk diantar ke hotel dimana sepupuku dan suaminya meng...