Sabtu, 25 Agustus 2018

27 nih, Kapan Nikah?

Apa lagi yang dicari? Tanya sopir go-car padaku saat aku menumpang mobilnya untuk diantar ke hotel dimana sepupuku dan suaminya menginap dalam rangka berbulan madu di Jogja. Ini adalah pertanyaan kesekian dari sekian orang padaku.

“Voe, kamu lulus udah, kerja juga udah. Apa lagi?” Tanya teman-temanku untuk kesekian kalinya. Ntah saat moment santai, ataupun sedikit serius.

“Jangan terlalu pilih-pilihlah.” Komentar yang lain padaku, ntah ini yang keberapa kalinya orang-orang berkomentar.

“Oh udah kepikiran buat nikah? Kirain gak mau. Hahaha…” Canda yang lain ketika aku meminta mereka mendoakanku agar segera menyusul mereka untuk menikah.


Begitulah pertanyaan dan pernyataan yang sering datang pasca kelulusanku setahun yang lalu. Aku kadang merenungi pertanyaan dan pernyataan mereka, hingga aku mencapai sebuah kesimpulan.

“Nunggu orang yang melamar.” Jawabku sekenanya saat mereka bertanya apalagi yang kutunggu.

“Aku gak pilih-pilih.” Protesku pada mereka. “karena memang gak ada yang bisa kupilih.” Jawabku saat mereka menyebutku terlalu pilih-pilih. Haha^^ jomblo ngenes banget yak!!

“Hahaha… iya nih, ada kemajuan.” Jawabku saat mereka exited kala aku membicarakan tentang pernikahan pada mereka.

Tak ada yang bisa memaknai sebuah senyum dari setiap jawaban yang ada. Karena orang lain bukanlah kita. Mereka bisa saja mengomentari apapun dari apa yang mereka lihat. Tapi mereka tak bisa mengomentari apa yang berada di balik hati.

“Alhamdulillah untuk urusan bisnis dan usaha aku lancar.” Cerita temanku dari balik telepon, seorang laki-laki muda berumur 25 tahun dan sudah ekspansi bisnis di beberapa lokasi. “Tapi, kenapa ya untuk urusan asmara, aku susah.” Katanya lagi. Aku yang saat itu 23 tahun tertawa. Terdengar lucu memang. Temanku ini, dari sisi keuangan dia mavan, dari sisi fisik lumayan tamvan, dari sisi agama dia lulusan pesantren dan aktif di lembaga dakwah. Terdengar aneh saat dia kesulitan mendapat pasangan, padahal sebenarnya, dia punya cukup modal untuk melamar seorang wanita.

Di saat umurku 27 tahun, ya saat ini, aku baru bisa merasakan apa yang dia rasakan. Dan akhirnya, aku mencapai sebuah kesimpulan.

Aku harus selalu mensyukuri hidupku, apapun yang Allah berikan, wajib ku syukuri tanpa tapi. Bukankah hidup ini adalah ujian sebelum pulang ke rumah abadi? Dan setiap orang ujiannya beda-beda?

Ada yang punya empat anak di umurnya yang ke-27.
Ada yang bercerai penuh drama dan harus membesarkan anak-anaknya seorang diri di umurnya yang ke-27.
Ada yang sudah dua kali menikah di umurnya yang ke-27.
Ada yang baru menyelesaikan S1-nya di umur ke-27.
Ada yang baru mendapatkan pekerjaan yang diminatinya di umur ke-27.
Ada yang sudah berulang-ulang kali ditolak laki-laki di umur ke-27.
Ada yang sudah merencanakan pernikahan impian, namun tak kunjung menemukan pasangan di umur ke-27.
Ada yang sukses dengan bisnis dari rumah di umur ke-27.
Bahkan, ada yang tak sampai menikmati kehidupan di umur 27.

Ketika pertanyaan-pertanyaan “kapan nikah” akhir-akhir ini menjadi tranding topic di telinga. Maka, dengan kerendahan hati, aku memintamu mendoakan kebaikan-kebaikan untukku. Dan aku pun, mendoakan kebaikan-kebaikan untukmu.

Pun jika sudah waktunya, Allah akan datangkan juga.
Dia yang selalu kudoakan, dan selalu mendoakanku.
#Cieeee #Prikitiiwww

Jadi kapan nikah?

BERHENTILAH BERTANYA!! ATAU CARIKAN CALONNYA!!
#EkspresiNgamuk wkwkwk


@PerpustakaanUGM
25 Agustus 2018
Pasca dapat undangan nikah dan yang ngundang langsung nyerang. haha^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

27 nih, Kapan Nikah?

“ Apa lagi yang dicari? ” Tanya sopir go-car  padaku saat aku menumpang mobilnya untuk diantar ke hotel dimana sepupuku dan suaminya meng...