Senin, 23 April 2018

Bandung : Conferense on Media. Ketika yang Ku dapat, Tak Hanya Sedekar Komunikasi


Bandung adalah pintu awal dari ketertarikanku akan conferense. Benar kata para seniorku di jurusan, jika aku tak memulainya, aku tak akan pernah memulainya.

Melanjutkan seminar ini sebagai presenter sempat membuatku ragu. Selain paper yang belum maximal 100%, biaya pendaftarannya pun mahal. Ya, maklumlah untuk sebuah seminar standar international dan terindeks Thomson dan Scopus. Rp 2,5 juta tentulah wajar.

Sholat sudah dijalankan, berharap Allah buka pintunya jika memang Dia izinkan untuk melanjutkan seminar. Masyaa Allah… benar… Allah benar-benar buka pintunya lewat kemudahan-kemudahan yang Dia berikan.


Alhamdulillah setelah selesai membuat Conferense Report, saya menyempatkan untuk menulis pengalaman belajar selama di Asia Afrika, Bandung.



Bandung Mengajarkan Banyak Hal

Ini adalah kali ke-3 aku menginjakkan kakiku di Bandung. Pertama, saat ikut jambore koperasi mahasiswa se-Jawa Barat di CIC, Lembang sebagai wakil dari Kopma UNIB tahun 2010. Kedua, saat mampir ke rumah Pamannya teman sekaligus perjalanan bisnis. Transit beberapa hari dari perjalanan menuju Yogyakarta-Bengkulu dengan menggunakan bis, saat menjadi perwakilan Kopma UNIB untuk lomba Olimpiade Koperasi tahun 2012.

Tentu setiap kunjungan ada kesannya sendiri, terutama saat conferense ini. Conferense ini memungkinkanku untuk belajar. Tidak hanya tentang Komunikasi, Media, Digital, dan Pemasaran. Tapi juga tentang semangat. Semangat untuk belajar bahasa Inggris kembali. Semangat untuk melanjutkan study. Semangat untuk menjadi dosen yang inovatif dan produktif. Semangat untuk menjadi seorang Pelancong dan pembelajar. Semangat untuk menjadi seorang ibu smart.

Kegiatan ini mengenalkanku pada Prof Louie Divinagracia, M.Sc., DBA dan istri. Mereka adalah sepasang suami istri yang hobbynya belajar bareng, riset bareng, dan berpergian bareng. Euih kece deh. Prof Louie berasal dari University of Philipines, Philippine dengan minat komunikasi pemasaran, sedangkan madam dari kampus khusus Wanita. Keduanya beda latar belakang pendidikan. Namun, hal ini dimanfaatkan untuk pengembangan riset multi disiplin. Inspiratif dah!

Pada conferense ini, aku menjadi presenter dan mempresentasikan paperku yang bertema Communication Marketing of Non-Profit Organization. Presentasinya pake Bahasa Inggris dong ya. Sedang aku sudah lama sekali gak practise in English. Jadilah kemaren presentasinya ala nganu. Hahaha^^ Next time… I will be the best presenter if Allah give me His opputinity to presentation about my paper #eaaa.. haha.. So, sekarang mau jatuh cinta lagi buat praktek Bahasa Inggris.

Selain itu aku juga berkenalan dengan Pak DR. Edy Santoso, ST., MH., MITM. Beliau ahli di bidang Hukum Bisnis dan Cyber. Salah satu pengajar Magister Ilmu Hukum sekolah passcasarjana di Universitas Islam Nusantara. Beliau bercerita banyak hal tentang pengalamannya ikut conferense di luar negeri, plus bagaimana kuasa Allah membantu setiap perjalanannya yang tentu sangat menginspirasi.

Katanya Pak Edy, saat kami sarapan pagi di Hotel Bidakara Grand Savoy Homann Bandung, dari sejak SMA beliau sudah hobby meng-kliping koran tentang perjalanan ke luar negeri. Dan Alhamdulillah, satu persatu negara yang sudah dia kliping berhasil dia jelajahi. Hmmm… karena Pak Edy ini, saya berniat sebelum berakhir 2018, saya harus conferense di luar negeri. Presentasi paper ilmiahku.

Dan pengalaman yang paling menyenangkan adalah ….

“Bisa diam-diam belajar sama ibu-ibu se-profesi (sama-sama dosen), lulusan S3, produktif riset, seorang istri serta ibu dari beberapa orang anak.”

Saya kagum dengan kesibukan mereka tapi tidak melepaskan tugas utamanya sebagai ibu rumah tangga.

Ibu DR. Rahayu, M.Si, salah satu dosen FISIPOL di UIN Sunan Gunung Djati, Bandung adalah teman satu group di diskusi panel. Beliau membawa anak balitanya ikut serta di kegiatan conferense. Si dedek yang dibawa adalah anak ke-6 nya dan si ibu punya lima anak laki-laki lagi yang sedang kuliah dan sekolah. Dengan mengajak si kecil, otomatis si Ibu bisa mengawasi langsung anaknya. Selain itu, membiasakan si dedek untuk ikut kegiatan ilmiah. Hehe^^ pengen gini juga nanti.

Sedangkan teman sekamarku, Bu Rahma, Ph.D adalah ketua jurusan pascasarjana Ilkom UMSU Medan. Beliau seorang istri yang tetap aktif dan produktif berkarya. Lulusan S3 India dan S2 Malaysia.

Dari Bu Rahma saya berkenalan dengan ibu-ibu lulusan S3 yang lain, yang saat itu sedang persiapan untuk pertemuan para doktor komunikasi. Pengen ikutan sih, tapi tahu diri ya lah. Baru lulusan S2, euy. Haha^^

Mereka adalah contoh. Contoh jika seandainya Allah mengizinkanku untuk menjadi seorang istri dan ibu, hal tersebut tidak menghalangi untuk tetap berkarya di bidang pendidikan. Produktif, namun tetap mengutamakan keluarga.

Awalnya, jika nanti menikah, maunya mendidik anak-anak plus mendampingi suami aja. Gak mau kerja. Maunya jadi full time mommy. Cie cie… Tapi, hehe… nantilah, jangan mengkhawatirkan masa depan. Semua hal bisa berubah. Bagaimanapun nanti, berkarir atau pun tidak, yang penting Allah ridho dan kita tetap berkaarya. Bismillah… hadapi semua yang sedang dilaksanakan dengan penuh rasa syukur.

Jogja, 21 April 2018
Bertepatan dengan hari Kartini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

27 nih, Kapan Nikah?

“ Apa lagi yang dicari? ” Tanya sopir go-car  padaku saat aku menumpang mobilnya untuk diantar ke hotel dimana sepupuku dan suaminya meng...