Jika mengingat masa-masa crowded akhir Juli lalu, rasanya
bersyukur sekali dengan ketetapan Allah atas segala rencana yang sudah
tersusun. Galau. Begitulah sekiranya kegundahaan hati dan pikiran, saat harus
memutuskan lanjut studi atau pending. #cieee
Alhamdulillah menjelang pulang ke Bengkulu (pertengahan
Juni), selama dua hari, aku mengurus semua persyaratan untuk studi S3. Pengurusan
persyaratannya cukup menguras energi dan pikiran, tapi Allah mempermudah semua prosesnya (persyaratan
untuk studi lanjut di UGM, bisa baca di sini). Bagiku waktu itu, melanjutkan
studi S3 di UGM akan menjadi ‘alasan’ untuk kembali ke Yogyakarta. #gagalmoveon.
Pertengahan Juli, surat pemberitahuan hasil Seleksi
Penerimaan Mahasiswa Baru Program Pascasarjana S3 Semester Gasal T.A. 2017/2018
menyatakan bahwa aku DITERIMA sebagai mahasiswa di Program Studi S3 Penyuluhan
dan Komunikasi Pembangunan UGM. Sehingga, aku wajib melakukan registrasi sesuai
dengan Pengumuman Rektor.
Nah, LoA sudah ditangan. Waktu itu yang terbayang, langkah
selanjutnya adalah mengurus beasiswa. Sejatinya, orangtua menyarankan agar
langsung registrasi untuk studi di T.A. 2017/2018. Tapi, hati kecil ‘meragukan’
diri sendiri. Apa aku bisa? Well, aku merasa miskin pengalaman. Biaya
kuliah yang tak sedikit juga menjadi bahan pertimbangan. Walaupun yang paling
aman adalah dengan biaya mandiri. Why? Sebab, mimpi menjadi seorang profesional
mom and housewife masih bergaung-gaung di hati. Hehe :P
Istikharah dan musyarah kembali menjadi pilihan utama untuk
menentukan apakah lanjut atau pending. Setelah musyarawah dengan orang tua,
musyarawah dengan pembimbing tesis yang ternyata menjadi calon promotorku juga
penting adanya.
Menjelang penutupan registrasi, Allah pertemukanku dengan
calon promotor yang saat itu sedang menghadiri sidang terbuka doktor dosen
Komunikasi Bisnisku di S2 Ilmu Komunikasi lalu, Mbak Monic (Dian Arymami). Itu
kali pertama aku melihat sidang terbuka doktor. Aku melihat Mbak Monic sangat
brilian saat mempresentasikan disertasinya. Beliau juga tampak tenang saat
menjawab pertanyaan dari promotor, co-promotor dan semua pengujinya.
![]() |
| Mba Monic (tengah) dan 8 penguji |
Waktu itu rasanya nano-nano. Bangga, haru, dan kepengen
campu aduk jadi satu. Tapi, untuk menjadi brilian seperti itu tentulah melewati
proses panjang yang tak mudah. Aku bertanya pada diriku sendiri? Apa aku
siap?
Melihat sidang terbuka Mbak Monic, keputusanku mantap untuk pending.
Maka, segera kuurus surat pending yang ditujukan ke Dekan Pascasarjana.
Berikhtiar untuk menunggu atau menemukan seseorang yang mau bersama-sama
menuju surga Allah saat ini adalah yang paling penting. Barangkali nanti aku
dapat menemaninya studi, atau nanti kami studi bersama. Aku jadi ingat Mbak
Sakinah, teman seperjuangan waktu mendaftar studi S3, yang akhirnya memilih
untuk benar-benar lanjut. Status single barangkali bukan masalah untuknya. Aku
dibuatnya salut, tapi, aku tak tahu apa aku bisa sekuat itu.
![]() |
| Surat Acc Pending |
Dua hari yang lalu, aku mendapat e-mail dari UGM yang berisi
persetujuan untuk penundaan registrasi ke semester Gasal T.A. 2018/2019. Seketika
aku ingat amanat PEKERTI yang diberikan pada kami, para dosmud UNY, agar segera
melanjutkan studi S3 di luar negeri. Aku membayangkan sebuah negara. Kepalaku
rasanya berputar sendiri. Duhai Allah, aku harus memperpanjang sujudku,
merayu-Mu penuh khusyuk. Tolong, beri aku teman!
-------
Maafkan aku Allah-ku..
Padahal aku tahu,
Kau selalu memberi yang terbaik
untuk hamba-Mu.


Voe......
BalasHapussemoga Allah segera memberimu teman.. miss u...
Aamiin. Hay cheche.. makasih udah mampir.
HapusMiss u so bad hun