Minggu, 17 September 2017

Penundaan Studi, Accepted!!



Jika mengingat masa-masa crowded akhir Juli lalu, rasanya bersyukur sekali dengan ketetapan Allah atas segala rencana yang sudah tersusun. Galau. Begitulah sekiranya kegundahaan hati dan pikiran, saat harus memutuskan lanjut studi atau pending. #cieee

Alhamdulillah menjelang pulang ke Bengkulu (pertengahan Juni), selama dua hari, aku mengurus semua persyaratan untuk studi S3. Pengurusan persyaratannya cukup menguras energi dan pikiran, tapi Allah mempermudah semua prosesnya (persyaratan untuk studi lanjut di UGM, bisa baca di sini). Bagiku waktu itu, melanjutkan studi S3 di UGM akan menjadi ‘alasan’ untuk kembali ke Yogyakarta. #gagalmoveon. 

Pertengahan Juli, surat pemberitahuan hasil Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru Program Pascasarjana S3 Semester Gasal T.A. 2017/2018 menyatakan bahwa aku DITERIMA sebagai mahasiswa di Program Studi S3 Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan UGM. Sehingga, aku wajib melakukan registrasi sesuai dengan Pengumuman Rektor.


Nah, LoA sudah ditangan. Waktu itu yang terbayang, langkah selanjutnya adalah mengurus beasiswa. Sejatinya, orangtua menyarankan agar langsung registrasi untuk studi di T.A. 2017/2018. Tapi, hati kecil ‘meragukan’ diri sendiri. Apa aku bisa? Well, aku merasa miskin pengalaman. Biaya kuliah yang tak sedikit juga menjadi bahan pertimbangan. Walaupun yang paling aman adalah dengan biaya mandiri. Why? Sebab, mimpi menjadi seorang profesional mom and housewife masih bergaung-gaung di hati. Hehe :P

Istikharah dan musyarah kembali menjadi pilihan utama untuk menentukan apakah lanjut atau pending. Setelah musyarawah dengan orang tua, musyarawah dengan pembimbing tesis yang ternyata menjadi calon promotorku juga penting adanya.

Menjelang penutupan registrasi, Allah pertemukanku dengan calon promotor yang saat itu sedang menghadiri sidang terbuka doktor dosen Komunikasi Bisnisku di S2 Ilmu Komunikasi lalu, Mbak Monic (Dian Arymami). Itu kali pertama aku melihat sidang terbuka doktor. Aku melihat Mbak Monic sangat brilian saat mempresentasikan disertasinya. Beliau juga tampak tenang saat menjawab pertanyaan dari promotor, co-promotor dan semua pengujinya.

Mba Monic (tengah) dan 8 penguji
Waktu itu rasanya nano-nano. Bangga, haru, dan kepengen campu aduk jadi satu. Tapi, untuk menjadi brilian seperti itu tentulah melewati proses panjang yang tak mudah. Aku bertanya pada diriku sendiri? Apa aku siap?
 
Melihat sidang terbuka Mbak Monic, keputusanku mantap untuk pending. Maka, segera kuurus surat pending yang ditujukan ke Dekan Pascasarjana. 

Berikhtiar untuk menunggu atau menemukan seseorang yang mau bersama-sama menuju surga Allah saat ini adalah yang paling penting. Barangkali nanti aku dapat menemaninya studi, atau nanti kami studi bersama. Aku jadi ingat Mbak Sakinah, teman seperjuangan waktu mendaftar studi S3, yang akhirnya memilih untuk benar-benar lanjut. Status single barangkali bukan masalah untuknya. Aku dibuatnya salut, tapi, aku tak tahu apa aku bisa sekuat itu. 

Surat Acc Pending
 Dua hari yang lalu, aku mendapat e-mail dari UGM yang berisi persetujuan untuk penundaan registrasi ke semester Gasal T.A. 2018/2019. Seketika aku ingat amanat PEKERTI yang diberikan pada kami, para dosmud UNY, agar segera melanjutkan studi S3 di luar negeri. Aku membayangkan sebuah negara. Kepalaku rasanya berputar sendiri. Duhai Allah, aku harus memperpanjang sujudku, merayu-Mu penuh khusyuk. Tolong, beri aku teman!

-------

Maafkan aku Allah-ku..
Padahal aku tahu,
Kau selalu memberi yang terbaik
untuk hamba-Mu. 

2 komentar:

  1. Voe......
    semoga Allah segera memberimu teman.. miss u...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Hay cheche.. makasih udah mampir.
      Miss u so bad hun

      Hapus

27 nih, Kapan Nikah?

“ Apa lagi yang dicari? ” Tanya sopir go-car  padaku saat aku menumpang mobilnya untuk diantar ke hotel dimana sepupuku dan suaminya meng...