Membangun sebuah keluarga sakinah,
mawaddah, wa rohma berorientasi akhirat tentulah menjadi dambaan setiap insan.
Salah satu ikhtiar dalam membangun keluarga surgawi itu adalah dengan
mempersiapkan diri sebaik mungkin. Persiapan apa yang perlu menjadi pertimbangan
para single?
Ustad Cahyadi Takariwan dalam Kajian
Pra Nikah di Masjid Nurul Ashri Yogyakarta menjawab dengan membaginya dalam dua pertanyaan
penting. Pertama, tentang Pertanyaan Aspek Mendasar dan kedua Pertanyaan Aspek Kesiapan yang masing-masing
terdiri dari 10 pertanyaan.
![]() |
| Foto Pernikahan Ukhti Marliah (salah satu personil brigade 09) source : FB Marlia |
1.
Mengapa
dan Untuk Apa Aku Menikah?
Pertanyaan ini
akan berkaitan dengan visi dan misi kita dalam membangun rumah tangga. Visi
inilah yang akan membuat kita lebih bertanggung jawab, karena visi berkaitan
dengan komitmen.
Temukanlah alasan yang kuat dalam diri kita mengenai, “mengapa
saya harus menikah?”. Jawaban “Sunnah Rosul” adalah jawaban yang normatif.
Detailkanlah jawabanmu hingga nanti mendapatkan visi menikah. Visi ini juga
yang akan menentukan seperti apa pasangan kita selanjutnya.
Dalam sebuah
pernikahan, kesamaan visi penting. Tahun kelima pernikahan, biasanya akan
timbul masalah-masalah (pasca manisnya pernikahan –awal menikah-). Jangan
terlalu lama berlarut-larut dalam masalah. Bangunlah komunikasi berdua dan
kembalilah ke visi pernikahan.
2.
Mengapa
Aku Memilih Dia?
Jika pertanyaan
ini sudah terjawab, maka coba putar dengan pertanyaan, “Jika tidak dia
mengapa?” Jawaban ini tentunya sulit dijawab bagi orang yang telah duluan jatuh
cinta dan menyimpan sebuah nama. Semua seolah menjadi indah dan tidak realistis.
Maka, dalam menjawab pertanyaan ini, cobalah untuk menetralkan hati.
Sebelum
pernikahan, barangkali semua memang akan tampak indah. Setelah pernikahan maka
akan terlihat bagaimana rupa aslinya. Kembalilah pada pilihan utama, yaitu
agama!
3.
Apakah
dia Jodohku?
Kita akan tahu
apakah dia jodoh kita atau bukan, setelah akad terucap dan sah! Kita tidak akan
tahu siapa jodoh kita, bahkan sedetik sebelum akad nikah. Jadi, apakah dia
jodohku? Iya, jika sudah sah dalam ikatan pernikahan.
Jika sudah menikah
lalu bercerai, apakah dia jodoh kita? Bagi orang yang akan bercerai sekalipun,
dia tidak akan tahu apakah mereka tidak berjodoh jika mereka belum bercerai.
Mereka tidak berjodoh, jika mereka benar-benar sah bercerai. Apabila nanti ada
masalah dalam rumah tangga, cek cok suami istri. Jangan pernah bergumam,
“mungkin kamu bukan jodoh saya.” Lah, dari mana kita tahu bahwa suami/istri
yang menikah dengan kita itu bukan jodoh kita, padahal belum bercerai?
Jika nanti
ta’aruf, cobalah perhatikan visinya dalam membangun keluarga. Lalu, klik ga?
Jika nanti dimudahkan proses dan pelaksanaannya, semoga benar-benar berjodoh.
4.
Apakah
Aku Tengah Jatuh Cinta Kepadanya?
Hadirnya
bayang-bayang si dia, barangkali berindikasi kita sedang jatuh cinta.
Tanyakanlah pada hati. Sebab perasaan cinta, dapat menutupi semua kekurangan si
dia. Ketika ta’aruf, cobalah ketahui kelebihan dan kekurangan si dia, agar
nanti setelah pernikahan tidak shock dengan ‘keasliannya’.
Solusi bagi
orang yang tengah jatuh cinta, tentulah pernikahan. Jadi, sebelum melepas untuk
mengikhlaskan, cobahlah ikhtiarkan untuk menghalalkan. Sebab cinta karena
Allah, adalah pertanda dan anugrah dari-Nya.
5.
Apakah
Dia Baik untuk Dunia dan Akhiratku?
Ketika
berikhtiar menjemput atau menunggu jodoh, jangan pernah abaikan aspek dunia dan
akhirat. Banyak dari kita sangat mengkhawatirkan dunia, tapi menduakan akhirat.
Padahal harapan dari sebuah pernikahan, jodoh tidak hanya sebatas di dunia tapi
juga di akhirat. Apakah dia mampu bekerjasama saling membawa ke surga?
Bertanya
tentang ‘pintu rezeki’ yang akan diikhtiarkan ketika menikah adalah penting,
apakah lewat bekerja, lewat perdagangan, atau lewat pintu yang lain. Namun,
jangan lupa juga lihat tauhidnya. Lihat bagaimana akhlaknya.
6.
Apakah
dia baik untuk menjadi ibu atau ayah dari anak-anakku kelak?
Jawaban dari
pertanyaan ini akan menjadi pendidikan untuk anak-anak kita. Suatu saat mereka
akan bertanya pada kita bagaimana ayah menikah dengan ibu? Bagaimana pertemuan
ayah dan ibu sebelum menikah? Bagaimana ayah waktu melamar ibu? Proses menuju
pernikahan ini akan menjadi pendidikan untuk anak-anak kita.
“Oh dulu, ayah
ketemu sama ibu di kampus. Ayah tertarik sama ibu, Ayah datangi kakek, orang
tua ibumu.” Atau “Dulu ayah sama ibu melalui proses ta’aruf, kita baru ta’aruf
satu kali, punya kesamaan visi, klik, lalu lamaran dan menikah.” Atau “Dulu
ayah nikah sama ibu, gara-gara terciduk di balik semak-semak. Jadi ayah diancam
untuk tanggung jawab sama warga.” Naudzubillah...
Pernikahan
berkaitan dengan sejarah. Sejarah akan dikenang dan akan diceritakan berulang.
Sejarah akan diambil hikmah dan pelajarannya. Maka, ciptakanlah jawaban yang
baik dan mendidik dengan melalui proses pra pernikahan yang baik.
Pernikahan itu
simple dan jangan menyulitkan diri sendiri. Kadang yang memberatkan langkah
kita untuk menikah adalah bayangan-banyangan akan masa depan. Padahal, masa depan adalah milik Allah.
7.
Apakah
aku bisa menerima sifat dan karakternya?
Ketika nanti
ta’aruf (mengenal), renungkan apakah kita dapat menerima bagaimana karakternya,
bagaimana budaya, bagaimana lingkungan dia dibesarkan, bagaimana keluarganya? Perbedaan-perbedaan
ini akan mempengaruhi bagaimana rumah tangga ke depan.
Tidak ada yang
salah dengan perbedaan, yang salah jika tidak bisa memahami kultur yang
berbeda. Pernah di ruang konsultasi Pak Cah, panggilan Ustad Cahyadi
Takariawan, seorang suami istri datang untuk konsultasi. Si suami ingin
menyeraikan istrinya, sedangkan istri tidak mau diceraikan. Setelah ditanya, si
suami yang Jawa banget merasa selalu dimarahi dan dibentak oleh istriinya
setiap saat. Sedangkan istrinya yang asli Makassar merasa tidak pernah memarahi
bahkan membentak suaminya. Dalam adat Jawa, suara istri harus lebih rendah
dibanding suara suami. Tone suara istri lebih tinggi sedikit, bisa memecah
keharmonisan.
Sedangkan di
Makassar, orang-orang berbicara dengan suara yang tinggi. Lebih tinggi,
bukan berarti marah. Suara yang berat dan nyaring juga bukan berarti membentak.
Hanya saja, begitulah budaya. Pernikahan ‘memaksa’ kita untuk saling memahami
dalam perbedaan.
Selanjutnya
adalah, bagaimana memberi masukan. Pasca pernikahan, ‘kuasa’ ada di tangan
laki-laki. Laki-lakilah yang memegang otoritas tertinggi. Lantas, apakah istri
tidak boleh menyela atau turut berpendapat? Barangkali nanti suami berpendapat
A, tapi istri berpendapat B. Suami capek minta dipijit, sedangkan istri super
lelah pasca mengurus rumah tangga. Saat istri menolak dan memberi masukan,
apakah ini membangkang?
Maka,
mengkomunikasikannya sebelum pernikahan penting adanya. Suami harus belajar
memahami istri. Dan istri harus belajar memberikan pendapat yang baik kepada
suami. Jangan pernah sekali-sekali suami berkata, “Kamu ini?! Selalu
membangkang saya!!” Padahal istri hanya butuh istirahat sejenak karena fisik
yang super lelah.
Saat ta’aruf
juga tanyakan, “apa harapanmu untuk istrimu?” atau “apa harapanmu untuk
suamimu?”. Barangkali, si laki-laki berharap istri yang super jago masak.
Sedangkan si perempuan sama sekali tidak bisa memasak. Saling terbuka diawal
akan lebih baik, daripada salah melangkah. Jika si laki-laki menolak, maka si
perempuan siap. Jika si laki-laki menerima, maka
setelah menjadi suami dia harus siap dengan istri yang lamban dalam urusan
memasak. Komunikasikanlah, apa yang perlu dikomunikasikan.
8.
Apakah
aku bisa menyesuaikan dengan harapan dan keinginannya?
Bagi laki-laki,
ataupun perempuan, jika ada keinginan untuk kuliah lagi, maka sampaikanlah di
awal ta’aruf. Sebuah kisah pengantin baru juga dikisahkan oleh Pak Cah. Suami istri
yang baru menikah tiga bulan datang dengan motornya masing-masing. Tidak datang
berboncengan layaknya pengantin baru yang lain. Rupa-rupanya sebelum datang ke
rumah Pak Cah, mereka habis bertengkar.
Si istri
bercerita bahwa dia diterima beasiswa studi lanjut di luar negeri. Di negara
dan jurusan yang dia impikan selama ini. Di ruang konsultasi Pak Cah, si istri
berkata, “Masa gara-gara saya nikah sama dia, saya gak lanjut kuliah, Pak!!”
Di lain sisi,
suami berkata, “Dia berbohong kepada saya, Pak. Waktu ta’aruf dia tidak pernah
menyampaikan bahwa dalam proses mendaftar kuliah.”
Kasusnya,
sebelum menikah, si istri sempat apply beasiswa ke luar negeri. Tiga bulan
setelah pernikahan, pengumuman beasiswa menyatakan bahwa si istri diterima dan
lanjut study di tahun itu juga. Namun, suami tidak mengizinkan karena tidak mau
hidup terpisah dengan sang istri, “Untuk apa menikah, Pak. Jika hidup
berjauhan.” Begitu sekiranya kata si suami.
Maka, untuk
menghindari hal-hal seperti ini, terbukalah saat ta’aruf.
9.
Apakah
aku bisa menjalani hidup berumah tangga selamanya bersama dia dalam suka dan
duka?
Saat ta’aruf
dan mengetahui berbagai macam informasi tentang si dia, maka tanyakan pada
hatimu apakah sudah siap untuk menerima semua hal tentangnya. Tentang
kepribadian, budaya, keluarga, kelebihan serta kekurangannya. Menikah tidak
hanya setahun dua tahun, tapi untuk seumur hidup. Pernikahan juga tidak hanya
berada di fase romantic loves, tapi juga ada fase distress.
Apabila telah yakin, maka katakanlah, “Insyaa Allah, saya sanggup!”
Setelah itu, maka kita harus siap dengan segala resiko dari kata "Sanggup" yang kita ucapkan. Sanggup bersamanya dalam suka maupun duka. Siap dengan segala duka dan siap dengan segala suka.
10.
Apakah
aku bersedia berkorban untuknya? Apakah aku siap mengorbankan harapan dan
impianku untuknya?
Lanjut study di
luar negeri, mendapatkan omset sekian Milyar, memiliki pekerjaan yang baik dan sebagainya. Setiap orang,
apalagi ketika single memiliki mimpi pribadi. Bahkan ketika sudah menikah pun
mimpi tersebut tetap menjadi tujuan untuk dicapai. Namun, ketika mimpi kurang
selaras dengan pasangan dan kondisi pasca pernikahan. Apakah kita siap untuk
mengorbankan mimpi yang telah lama dibangun demi membahagiakan pasangan dan
keluarga kita?
Kebahagiaan
keluarga sejatinya lebih penting dari impian. Jangan sampai ketika kita sudah
berhasil mencapai target dan impian kita, kita lupa bahwa kita sudah
‘meninggalkan’ keluarga terlalu jauh. Bahkan kita lupa bahwa kita punya
keluarga, dan disaat kita sadar, mereka sudah terlanjur kecewa dengan kita.
Lantas, bagi para istri, apakah rela meninggalkan karir demi keluarga? Lalu
kepada para suami, apakah siap mengizinkan istri untuk keluar rumah untuk
mengejar mimpi?
Bersambung....
Dari Kajian Pra Nikah Bersama Ustad Cahyadi Takariawan.
Ditulis kembali dengan bahasa-nya si Voe.
Semoga bermanfaat. Mari saling menasihati dan berlomba-lomba dalam kebaikan.

makasih sudah berbagi mas. bermanfaat buat saya yang akan menuju ke jenjang ini
BalasHapusSama-sama, semoga lancar sampai akhir. Btw, saya 'mbak' :-P
Hapus