Kamis, 12 Oktober 2017

Pertanyaan Aspek Mendasar Menuju Pernikahan

Membangun sebuah keluarga sakinah, mawaddah, wa rohma berorientasi akhirat tentulah menjadi dambaan setiap insan. Salah satu ikhtiar dalam membangun keluarga surgawi itu adalah dengan mempersiapkan diri sebaik mungkin. Persiapan apa yang perlu menjadi pertimbangan para single?

Ustad Cahyadi Takariwan dalam Kajian Pra Nikah di Masjid Nurul Ashri Yogyakarta menjawab dengan membaginya dalam dua pertanyaan penting. Pertama, tentang Pertanyaan Aspek Mendasar dan kedua Pertanyaan Aspek Kesiapan yang masing-masing terdiri dari 10 pertanyaan.

Foto Pernikahan Ukhti Marliah (salah satu personil brigade 09)
source : FB Marlia

Pertanyaan Aspek Mendasar

1.      Mengapa dan Untuk Apa Aku Menikah?
Pertanyaan ini akan berkaitan dengan visi dan misi kita dalam membangun rumah tangga. Visi inilah yang akan membuat kita lebih bertanggung jawab, karena visi berkaitan dengan komitmen. 
Temukanlah alasan yang kuat dalam diri kita mengenai, “mengapa saya harus menikah?”. Jawaban “Sunnah Rosul” adalah jawaban yang normatif. Detailkanlah jawabanmu hingga nanti mendapatkan visi menikah. Visi ini juga yang akan menentukan seperti apa pasangan kita selanjutnya.

Dalam sebuah pernikahan, kesamaan visi penting. Tahun kelima pernikahan, biasanya akan timbul masalah-masalah (pasca manisnya pernikahan –awal menikah-). Jangan terlalu lama berlarut-larut dalam masalah. Bangunlah komunikasi berdua dan kembalilah ke visi pernikahan.

2.      Mengapa Aku Memilih Dia?
Jika pertanyaan ini sudah terjawab, maka coba putar dengan pertanyaan, “Jika tidak dia mengapa?” Jawaban ini tentunya sulit dijawab bagi orang yang telah duluan jatuh cinta dan menyimpan sebuah nama. Semua seolah menjadi indah dan tidak realistis. Maka, dalam menjawab pertanyaan ini, cobalah untuk menetralkan hati.

Sebelum pernikahan, barangkali semua memang akan tampak indah. Setelah pernikahan maka akan terlihat bagaimana rupa aslinya. Kembalilah pada pilihan utama, yaitu agama!

3.      Apakah dia Jodohku?
Kita akan tahu apakah dia jodoh kita atau bukan, setelah akad terucap dan sah! Kita tidak akan tahu siapa jodoh kita, bahkan sedetik sebelum akad nikah. Jadi, apakah dia jodohku? Iya, jika sudah sah dalam ikatan pernikahan.

Jika sudah menikah lalu bercerai, apakah dia jodoh kita? Bagi orang yang akan bercerai sekalipun, dia tidak akan tahu apakah mereka tidak berjodoh jika mereka belum bercerai. Mereka tidak berjodoh, jika mereka benar-benar sah bercerai. Apabila nanti ada masalah dalam rumah tangga, cek cok suami istri. Jangan pernah bergumam, “mungkin kamu bukan jodoh saya.” Lah, dari mana kita tahu bahwa suami/istri yang menikah dengan kita itu bukan jodoh kita, padahal belum bercerai?

Jika nanti ta’aruf, cobalah perhatikan visinya dalam membangun keluarga. Lalu, klik ga? Jika nanti dimudahkan proses dan pelaksanaannya, semoga benar-benar berjodoh.

4.      Apakah Aku Tengah Jatuh Cinta Kepadanya?
Hadirnya bayang-bayang si dia, barangkali berindikasi kita sedang jatuh cinta. Tanyakanlah pada hati. Sebab perasaan cinta, dapat menutupi semua kekurangan si dia. Ketika ta’aruf, cobalah ketahui kelebihan dan kekurangan si dia, agar nanti setelah pernikahan tidak shock dengan ‘keasliannya’.

Solusi bagi orang yang tengah jatuh cinta, tentulah pernikahan. Jadi, sebelum melepas untuk mengikhlaskan, cobahlah ikhtiarkan untuk menghalalkan. Sebab cinta karena Allah, adalah pertanda dan anugrah dari-Nya.

5.      Apakah Dia Baik untuk Dunia dan Akhiratku?
Ketika berikhtiar menjemput atau menunggu jodoh, jangan pernah abaikan aspek dunia dan akhirat. Banyak dari kita sangat mengkhawatirkan dunia, tapi menduakan akhirat. Padahal harapan dari sebuah pernikahan, jodoh tidak hanya sebatas di dunia tapi juga di akhirat. Apakah dia mampu bekerjasama saling membawa ke surga?

Bertanya tentang ‘pintu rezeki’ yang akan diikhtiarkan ketika menikah adalah penting, apakah lewat bekerja, lewat perdagangan, atau lewat pintu yang lain. Namun, jangan lupa juga lihat tauhidnya. Lihat bagaimana akhlaknya.

6.      Apakah dia baik untuk menjadi ibu atau ayah dari anak-anakku kelak?
Jawaban dari pertanyaan ini akan menjadi pendidikan untuk anak-anak kita. Suatu saat mereka akan bertanya pada kita bagaimana ayah menikah dengan ibu? Bagaimana pertemuan ayah dan ibu sebelum menikah? Bagaimana ayah waktu melamar ibu? Proses menuju pernikahan ini akan menjadi pendidikan untuk anak-anak kita.

“Oh dulu, ayah ketemu sama ibu di kampus. Ayah tertarik sama ibu, Ayah datangi kakek, orang tua ibumu.” Atau “Dulu ayah sama ibu melalui proses ta’aruf, kita baru ta’aruf satu kali, punya kesamaan visi, klik, lalu lamaran dan menikah.” Atau “Dulu ayah nikah sama ibu, gara-gara terciduk di balik semak-semak. Jadi ayah diancam untuk tanggung jawab sama warga.” Naudzubillah...

Pernikahan berkaitan dengan sejarah. Sejarah akan dikenang dan akan diceritakan berulang. Sejarah akan diambil hikmah dan pelajarannya. Maka, ciptakanlah jawaban yang baik dan mendidik dengan melalui proses pra pernikahan yang baik.

Pernikahan itu simple dan jangan menyulitkan diri sendiri. Kadang yang memberatkan langkah kita untuk menikah adalah bayangan-banyangan akan masa depan. Padahal, masa depan adalah milik Allah.

7.      Apakah aku bisa menerima sifat dan karakternya?
Ketika nanti ta’aruf (mengenal), renungkan apakah kita dapat menerima bagaimana karakternya, bagaimana budaya, bagaimana lingkungan dia dibesarkan, bagaimana keluarganya? Perbedaan-perbedaan ini akan mempengaruhi bagaimana rumah tangga ke depan.

Tidak ada yang salah dengan perbedaan, yang salah jika tidak bisa memahami kultur yang berbeda. Pernah di ruang konsultasi Pak Cah, panggilan Ustad Cahyadi Takariawan, seorang suami istri datang untuk konsultasi. Si suami ingin menyeraikan istrinya, sedangkan istri tidak mau diceraikan. Setelah ditanya, si suami yang Jawa banget merasa selalu dimarahi dan dibentak oleh istriinya setiap saat. Sedangkan istrinya yang asli Makassar merasa tidak pernah memarahi bahkan membentak suaminya. Dalam adat Jawa, suara istri harus lebih rendah dibanding suara suami. Tone suara istri lebih tinggi sedikit, bisa memecah keharmonisan.

Sedangkan di Makassar, orang-orang berbicara dengan suara yang tinggi. Lebih tinggi, bukan berarti marah. Suara yang berat dan nyaring juga bukan berarti membentak. Hanya saja, begitulah budaya. Pernikahan ‘memaksa’ kita untuk saling memahami dalam perbedaan.

Selanjutnya adalah, bagaimana memberi masukan. Pasca pernikahan, ‘kuasa’ ada di tangan laki-laki. Laki-lakilah yang memegang otoritas tertinggi. Lantas, apakah istri tidak boleh menyela atau turut berpendapat? Barangkali nanti suami berpendapat A, tapi istri berpendapat B. Suami capek minta dipijit, sedangkan istri super lelah pasca mengurus rumah tangga. Saat istri menolak dan memberi masukan, apakah ini membangkang?

Maka, mengkomunikasikannya sebelum pernikahan penting adanya. Suami harus belajar memahami istri. Dan istri harus belajar memberikan pendapat yang baik kepada suami. Jangan pernah sekali-sekali suami berkata, “Kamu ini?! Selalu membangkang saya!!” Padahal istri hanya butuh istirahat sejenak karena fisik yang super lelah.

Saat ta’aruf juga tanyakan, “apa harapanmu untuk istrimu?” atau “apa harapanmu untuk suamimu?”. Barangkali, si laki-laki berharap istri yang super jago masak. Sedangkan si perempuan sama sekali tidak bisa memasak. Saling terbuka diawal akan lebih baik, daripada salah melangkah. Jika si laki-laki menolak, maka si perempuan siap. Jika si laki-laki menerima, maka setelah menjadi suami dia harus siap dengan istri yang lamban dalam urusan memasak. Komunikasikanlah, apa yang perlu dikomunikasikan.

8.      Apakah aku bisa menyesuaikan dengan harapan dan keinginannya?
Bagi laki-laki, ataupun perempuan, jika ada keinginan untuk kuliah lagi, maka sampaikanlah di awal ta’aruf. Sebuah kisah pengantin baru juga dikisahkan oleh Pak Cah. Suami istri yang baru menikah tiga bulan datang dengan motornya masing-masing. Tidak datang berboncengan layaknya pengantin baru yang lain. Rupa-rupanya sebelum datang ke rumah Pak Cah, mereka habis bertengkar.

Si istri bercerita bahwa dia diterima beasiswa studi lanjut di luar negeri. Di negara dan jurusan yang dia impikan selama ini. Di ruang konsultasi Pak Cah, si istri berkata, “Masa gara-gara saya nikah sama dia, saya gak lanjut kuliah, Pak!!”

Di lain sisi, suami berkata, “Dia berbohong kepada saya, Pak. Waktu ta’aruf dia tidak pernah menyampaikan bahwa dalam proses mendaftar kuliah.”

Kasusnya, sebelum menikah, si istri sempat apply beasiswa ke luar negeri. Tiga bulan setelah pernikahan, pengumuman beasiswa menyatakan bahwa si istri diterima dan lanjut study di tahun itu juga. Namun, suami tidak mengizinkan karena tidak mau hidup terpisah dengan sang istri, “Untuk apa menikah, Pak. Jika hidup berjauhan.” Begitu sekiranya kata si suami.

Maka, untuk menghindari hal-hal seperti ini, terbukalah saat ta’aruf.

9.      Apakah aku bisa menjalani hidup berumah tangga selamanya bersama dia dalam suka dan duka?
Saat ta’aruf dan mengetahui berbagai macam informasi tentang si dia, maka tanyakan pada hatimu apakah sudah siap untuk menerima semua hal tentangnya. Tentang kepribadian, budaya, keluarga, kelebihan serta kekurangannya. Menikah tidak hanya setahun dua tahun, tapi untuk seumur hidup. Pernikahan juga tidak hanya berada di fase romantic loves, tapi juga ada fase distress. Apabila telah yakin, maka katakanlah, “Insyaa Allah,  saya sanggup!”

Setelah itu, maka kita harus siap dengan segala resiko dari kata "Sanggup" yang kita ucapkan. Sanggup bersamanya dalam suka maupun duka. Siap dengan segala duka dan siap dengan segala suka.

10.  Apakah aku bersedia berkorban untuknya? Apakah aku siap mengorbankan harapan dan impianku untuknya?
Lanjut study di luar negeri, mendapatkan omset sekian Milyar, memiliki pekerjaan yang baik dan sebagainya. Setiap orang, apalagi ketika single memiliki mimpi pribadi. Bahkan ketika sudah menikah pun mimpi tersebut tetap menjadi tujuan untuk dicapai. Namun, ketika mimpi kurang selaras dengan pasangan dan kondisi pasca pernikahan. Apakah kita siap untuk mengorbankan mimpi yang telah lama dibangun demi membahagiakan pasangan dan keluarga kita?

Kebahagiaan keluarga sejatinya lebih penting dari impian. Jangan sampai ketika kita sudah berhasil mencapai target dan impian kita, kita lupa bahwa kita sudah ‘meninggalkan’ keluarga terlalu jauh. Bahkan kita lupa bahwa kita punya keluarga, dan disaat kita sadar, mereka sudah terlanjur kecewa dengan kita. Lantas, bagi para istri, apakah rela meninggalkan karir demi keluarga? Lalu kepada para suami, apakah siap mengizinkan istri untuk keluar rumah untuk mengejar  mimpi?


Bersambung....

Dari Kajian Pra Nikah Bersama Ustad Cahyadi Takariawan.
Ditulis kembali dengan bahasa-nya si Voe.
Semoga bermanfaat. Mari saling menasihati dan berlomba-lomba dalam kebaikan.

2 komentar:

  1. makasih sudah berbagi mas. bermanfaat buat saya yang akan menuju ke jenjang ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, semoga lancar sampai akhir. Btw, saya 'mbak' :-P

      Hapus

27 nih, Kapan Nikah?

“ Apa lagi yang dicari? ” Tanya sopir go-car  padaku saat aku menumpang mobilnya untuk diantar ke hotel dimana sepupuku dan suaminya meng...