“Terlahir dari keluarga yang
broken home bukanlah keinginan kami. Kami adalah korban.” Temanku bercerita
sambil meneteskan air mata. Hatiku gemuruh. Tanpaku sadari, air mataku ikut jatuh. Benar. Tak
ada seorang pun yang menginginkan orang tua mereka berpisah. Bahkan dipisahkan
kematian sekalipun. Tapi, jika perceraian sudah menjadi pilihan dan Allah setujui, kita bisa apa?
![]() |
| Menjadi Korban Perceraian, Bukan Pilihan |
“Alhamdulillah… Voe.. Alhamdulillah
Allah kasih aku keahlian untuk nulis. Bahasa inggris yang baik. Aku gak boleh
ngeluh. Aku masih bisa usaha dengan kedua belah tanganku untuk ngirimin ibuku
duit.” Begitu katanya sebelum kami berpisah pasca wisudanya. Di balik pagar, haru
menyeruak memenuhi hati. Terlalu, jika aku tak qonaah dengan semua yang Allah
berikan.
Aku pun juga diperkenalkan Allah dengan seorang
teman yang ramah, berhati luas, dan ceria. Namun, siapa sangka, di balik wajah yang selalu tampak ceria itu, dia besar dari
keluarga besar yang tak utuh. “Voe.. dari umur 2 sampai 4 tahun, aku dah biasa
ngeliat piring terbang di rumah.” Katanya sambil tersenyum. Aku ngeri
membayangkan bagaimana ibu dan ayahnya ketika ia kecil saling melempar piring,
beradu mulut, dan saling mengusir.
Tapi, temanku yang berjilbab syari
ini tumbuh dengan keceriaan yang terpancar tanpa dibuat-buat. Dengan pendidikan
yang baik dan gizi yang terjamin. “Alhamdulillah ada malaikat yang merawatku
sejak kecil Voe. Dulu, waktu di dusun, aku ga sekolah, main aja di kebun,
disuruh ini itu. Tapi, aku diselamatkan, disekolahkan, bahkan dikuliahkan.”
Begitulah kurang lebih dia menceritakan seorang sosok yang merawatnya hingga
kini.
Lagi… seorang temanku yang saat ini
sedang studi lanjut (S2) di luar negeri. Sejak S1 sudah terbiasa keluar negeri,
bukan karena keluarganya kaya raya, tapi karena aura kecerdasannya. Dia
dibesarkan dari keluarga sederhana yang baru-baru ini kuketahui bahwa kedua
orang tua yang merawatnya itu bukan ibu dan ayah kandungnya. “Umur 1 tahun, aku
dah dibawa ke pengadilan Voe. Dipangku sama Bude, melihat bapak sama ibu cerai
di pengadilan. Aku masih simpan fotonya sampai sekarang.” Sekarang, dia besar dengan kondisi full prestasi. Mengispirasi.
Tetap solihah tentunya.
Seniorku, cantik, tegas, dan baik
hati pernah pula berkisah padaku. “Ibu sama ayah cerai sebelum mbak lulus kuliah. Stress. Depresi.
Malam-malam ngabisin duit ke café-café bikin pesta buat ngilangin stress.”
Tapi, hidayah menyambutnya dengan begitu manis. Kehidupan yang keras di awal
balighnya membentuknya menjadi pribadi yang mandiri hingga saat ini. Dan Allah pula
karuniakan dia suami yang lembut lagi baik. Sungguh, Allah itu sebaik-baik Pemberi Keputusan yang Adil.
Temanku yang di awal tulisan ini
mengatakan bahwa mereka tadi adalah korban broken home, saat ini
tercatat sebagai student S3 yang produktif. Aktif dakwah dan menulis. Telah
menikah dengan seorang ikhwan dari keluarga besar yang agamis dan mengispirasi.
Dari semua kisah-kisah nyata itu,
aku menangkap kesimpulan yang sama, bahwa hampir semua temanku berkata
“Kejadian ini membuat aku belajar. Nanti, jika jadi istri sebaiknya seperti ini
(solihah, patuh pada suami, dsb).”
Ketika sedang gadis talk di salah satu cafe di Jogja, temanku yang berwajah ceria ini menyampaikan sesuatu padaku. “Voe.. tidak mengapa dibilang telat
menikah, asal bisa menikah dengan orang terbaik di mata Allah. Aku hanya
ingin menikah sekali Voe. Dengan orang yang baik menurut Allah. Aku gak mau
seperti ibu dan ayahku.”
Sejenak, aku ingat sahabatku. Yang
akhirnya membuat kedua anaknya menjadi korban dari sebuah perceraian.
Perceraian antara dirinya dan sang suami (yang saat ini sudah menjadi mantan).
“Aku akan mendidik anakku
sebaik-baiknya Voe. Jadi anak soleh ya nak ya.” Katanya sambil mengelus kepala
si kecil yang saat itu baru berusia bulanan. Hatiku pilu melihat pemandangan di depan mata. Sungguh, menjadi
korban perceraian bukanlah keinginan dan pilihan. Tapi, takdir.
Ketakutan kadang menelusup halus,
laksana bisikan setan yang menyuruhku membuat keburukan. Takut jika nanti
bernasib sama dengan sahabatku ini (dicerai suami). Mantan suaminya yang dari kecil sudah melihat kekerasan dalam rumah tangga, mengambil
kesimpulan yang sama dengan apa yang dilakukan oleh Ayahnya kepada Ibunya. Dia melakukan hal yang hampir serupa kepada sahabatku ini. Dengan fisik dan hati pilu terluka, ia keluar dari rumah membawa si kecil hijrah. Ya, barangkali perceraian adalah pilihan terbaik. Takdir yang sudah tertulis.
“Mbak… bagaimana jika nanti Allah menakdirkan
kami menikah dengan laki-laki dari keluarga yang tak utuh (broken home),
sedang kami dari keluarga yang utuh? Bagaimana jika nanti calon suami kami pernah menjadi korban kekerasan dari orang tuanya?” Tanyaku pada ustazahku saat kami
mendiskusikan tentang pernikahan di sesi khusus munakahat.
Temanku, korban dari broken home
berpendapat, “Voe… jika dia jodohmu, maka kamu tak akan pernah mempersalahkan
itu. Allah akan mempermudah semuanya. Dan dia akan belajar dari pengalaman
keluarganya, bukan untuk meniru, tapi menjadi lebih baik. Seperti aku, jika
nanti aku akan menikah, aku harus menceritakan latar belakang keluargaku. Jika
ia siap memperistri orang dengan keluarga seperti itu, maka dialah jodohku.
Jangan khawatir. Allah tidak pernah salah.”
---
Jogja, 25 Okt 2017
Duhai Allah, sampaikan peluk sayangku pada mereka. Para perempuan
‘strong’ dan anak-anak yang menjadi korban broken home. 
Tidak ada komentar:
Posting Komentar