Sabtu, 28 Oktober 2017

S3 di Luar Negeri? Why Not!

Mau ke negara mana?
Sejak awal menjadi salah satu dosen muda di UNY, kami selalu dimotivasi (baca : paksa) untuk segera lanjut studi S3. Katanya, mumpung masih muda. UNY ingin kami segera berikhtiar untuk mendapatkan beasiswa apa saja, asal dapat berkuliah di kampus-kampus terbaik di bumi ini.

Siapa sih yang tidak mau study lanjut ke luar negeri? Apalagi gratisan. Sedari awal, orang tua sudah memberi lampu hijau berupa izin dunia akhirat, jika aku bisa tembus studi ke luar negeri. Hehe.. Tapi, barangkali memang effortku yang belum maksimal. Bahasa Inggris yang notabennya sebagai bahasa pengantar pun aku masih gak jelas begini. #melipirketembok

Pengen banget rasanya tinggal di negara, dimana namaku bukan nama yang aneh dan asing bagi penduduk negara tersebut. Well, setidaknya ketika mereka mendengar kata “Voettie Wisataone”, mereka tidak berasa unik gitu. Apalagi sampai ditanya-tanya, "arti namanya apa? kok namanya begitu? kenapa, loh, why, pasti orang tuanya dulu begini dan bla bla bla..." Hehe…
Selain itu, Allah telah membentangkan bumi untuk makhluk-Nya (QS. 55:10). Allah juga mengajak kita untuk saling mengenal, makanya Allah ciptakan kita bersuku-suku dan berbangsa-bangsa (QS. Al-Hujurat : 13). Dua surat ini cukup memotivasi kita untuk bertebaran ke muka bumi.

Allah juga menjanjikan meninggikan derajat bagi orang yang berilmu (QS. Mujadilah : 11), naik pangkat kerja aja udah seneng banget sampe syukuran terus, nah ini NAIK DERAJAT loh!! Allah akan menaikkan derajat mukmin di atas orang yang bukan mukmin. Allah pun akan meninggikan orang-orang berilmu di atas orang-orang yang tidak berilmu.

Awalnya, aku ingin fokus menjadi dosen yang baik #eciieee.. Mulai mencoba menulis buku dan jurnal. Ikut penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat. Kuliah S3-nya nanti aja, kalau sudah ketemu teman sejati. Biar ada teman diskusi kalo lagi pusing mikirin jurnal dan riset. Hehe.. Tapi, ketika salah satu rekan sekerja kami, dosen muda UNY lolos beasiswa LPDP ke Prancis, aku pun jadi kepengen studi lagi. Huooo…

Ya… kerja di Yogyakarta saja, kadang aku merasa ganjal sendiri. Kemana-mana bepergian jauh tanpa mahrom. Bahkan, menjadi orang yang mukim juga tanpa mahrom. Gimana kalau seandainya studi di luar negeri, menjadi perantau dan tanpa mahrom? Oh no! ngeri awak!

S3 di luar negeri sih sah-sah saja. Toh, akan banyak pengalaman dan ilmu baru dari negeri asing yang nantinya dapat menambah kasafah keilmuan kita untuk menjadi seorang ahli. Indonesia juga butuh lulusan-lulusan kampus terbaik di dunia agar dapat berkontribusi lebih untuk pendidikan di Indonesia. WALAUPUN!!! Walaupun sebenarnya menjadi manusia yang manfaat tidak selamanya dapat dihitung dari alumni mana kita berasal. Ibarat pohon. Lebih baik menjadi pohon yang pendek tapi rindang, dari pada tinggi menjulang tapi tidak rindang.

So, jika ditanya mau S3 di luar negeri? Tentu aku mau!! Tapi, sebagai seorang perempuan, aku lebih ingin jika nemenin orang yang mau S3 di luar negeri. #alasan Haha… Gapapa deh, aku yang bikinin teh/kopinya, ngasuh anak-anaknya, masakkin ikan asin kiriman dari Indonesia. Aku juga ikhlas lahir batin untuk jadi teman diskusinya kalau lagi mentok sama riset, yang walaupun aku juga gak tahu tentang itu. Jadi, gak perlu repot-repot mikirin tugas, paper, riset, dan disertasi pribadi. Haha.. #ngayal Hati-hati Voe, jangan panjang angan-angan.

Oh ya... Kalau kamu...
Kamu... iya kamu...
Kalau kamu gimana?
Mau S3 ke luar negeri?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

27 nih, Kapan Nikah?

“ Apa lagi yang dicari? ” Tanya sopir go-car  padaku saat aku menumpang mobilnya untuk diantar ke hotel dimana sepupuku dan suaminya meng...