Dalam rangka Dies Natalis FISIPOL
Ke-67, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) juga turut ambil bagian
untuk menyukseskannya dengan membuat Festifal Literasi Digital #FIRAL. Festifal
ini berlangsung tanggal 15 Oktober 2017 di Convention Hall, Gedung FISIPOL UGM.
Rangkaian acara terdiri dari Creatalks, yaitu seminar dan talkshow
menjadi produktif dengan konten yang positif dan kreatif. Pembicaranya mulai
dari Pak Menteri Kominfo, Rektor UGM, Dekan FISIPOL, Praktisi, dan Akademisi. Kegiatan
selanjutnya adalah Masterclass, kelas aktif dengan materi pengajaran
dari mentor profesional di bidangnya.
Materclass terdiri dari empat kelas
dengan tema yang berbeda. Keempatnya dilaksanakan di waktu dan lokasi yang
sama, namun di ruangan yang terpisah.
Kelas 1 –
Workshop KIDi -. Tema : Be Amazing with Infographic Thingking, yang langsung dibersamai oleh master coach Dhonny Firmansyah,
seorang pakar slide presentasi dan infografis dari kreasipresentasi.com.
Sehemat pemahaman saya, workshop ini akan mengajari pesertanya agar dapat
membuat presentasi yang kreatif dan inovatif.
Kelas 2 –
Indonesiabaik.id – Tema : Be Productive in 60 seconds with ur Smartphone. Pengajarnya : Iqbal Rezeki Awal, seorang Cyber Creator dari
Pramuka yang akan mengajarkan bagaimana membuat konten dalam 60 detik. Saya
sempat stalking ke websitenya saat mencari informasi tentang apa yang akan
diajarkan di kelas ini. Di indonesiabaik.id saya menemukan berbagai
macam konten positif yang dikemas dengan animasi digital yang menarik. Menurut
hemat saya, kelas ini sangat cocok bagi anak muda yang tertarik dalam desain
animasi.
Kelas 3 –
INCAKAP – Tema : Digital Parenting,
yang dibersamai langsung oleh Hilman Al-Madani- psikolog dan Trainer
dari Yayasan Kita dan Buah Hati. Di kelas ini Pak Hilman akan memberikan tips
menjadi orang tua yang baik di era digital. Kelas ini sangat cocok untuk
diikuti oleh semua kalangan, wabilkhusus orang tua, guru, dan siapa saja yang
berhubungan dengan dunia anak-anak.
Kelas 4 –
Siberkreasi – Tema : How to be Rich at Young Age in Digital Era. Pengajar : Gerald Sebastian seorang co-founder kokbisa.com yang
akan mengajarkan bagaimana menjadi kaya dan berpenghasilan di usia muda melalui
digital.
Keempat-empatnya terdengar sangat
menarik, bukan? Jika saja keempat pelatihan tersebut dibuat dengan jadwal yang berbeda,
rasanya saya ingin menghadiri keempat-empatnya. Tetapi, setiap peserta hanya
boleh memilih satu sesi saja, karena empat event ini dilaksanakan di waktu yang
bersamaan di ruangan yang berbeda.
Jika saat itu saya masih berstatus
sebagai mahasiswa UGM dan anggota KWU HMP UGM, saya bakalan memilih sesi
keempat. Bagaimana menjadi kaya di era digital saat ini. Ya, siapa yang gak
kepengen kaya?! Bisa sedekah jor-joran, menolong orang lain, naik haji,
membahagiakan orang tua, pasangan, anak, dan sebagainya. Tapi, berhubung status
bukan lagi anggota KWU #acieee dan dua minggu lagi akan menyampaikan
materi tentang Membuat Presentasi di matakuliah Teknik Presentasi.
Akhirnya, saya memutuskan untuk mendaftar di sesi pertama saja. Dengan tujuan,
agar ilmunya bisa ditransfer ulang ke mahasiswa-mahasiswaku yang cantik dan
ganteng. Hehehe..
Singkat cerita, saya mendaftar sesi
pertama dan panitia akan menghubungi jika saya terpilih untuk menjadi peserta.
Setelah mendapat SMS pemberitahuan (yang berarti saya diterima menjadi
peserta), esoknya saya datang dan melakukan registrasi ulang di depan kelas 1.
Saat di meja registrasi, di luar dugaan, kelas 1 sudah full terisi dan saya
disarankan untuk mengambil kelas 2 tentang membuat konten kreatif 60 detik. Diiih…
kan rasanya sedih ya, padahal sudah diniatkan untuk disampaikan ulang ke
mahasiswa.
Yaaa… gak apa-apa sih… Cuma kayaknya
belum terlalu tertarik untuk mengikuti kelas 2. Akhirnya, saya memutuskan untuk
pindah ke kelas 3 - Digital Parenting. Huznudzon aja, bentar lagi akan jadi ibu
(ibu beneran loh, bukan ibu dosen.. haha). So, dari sekarang harus
mempersiapkan diri agar jadi sebaik-baik ibu untuk anak-anak biologis dan
ideologisku nanti. Seorang ibu harus cerdas di era digital ini. Cerdas emosi
dan keilmuan. Agar dapat mendidik anak-anak Gen Z menjadi digital native
yang cerdas bermedia. Cieee.. ini ceritanya menghibur diri, biar gak larut
dalam ke-baper-an pasca gagal mendapatkan materi di Kelas 1.
![]() |
| Penyampaian materi oleh Pak Hilman, Psikolog dan Trainer Digital Parenting |
Duh, senangnya ya jika suami dan
istri belajar bareng. Belajar jadi papa-mama yang melek digital. Eish, saya
gak baper ya! Walaupun juga berharap bisa belajar bareng pasangan hidup,
langsung diskusi serta eksekusi bareng. Hehe.. Huznudzon aja, si calon pasangan
hidup juga lagi belajar. Belajar di tempat lain, yang Insyaa Allah ilmunya akan
bermanfaat untuk “masa depan”.
Sepanjang mendapatkan materi, aku
bersyukur karena keputusanku (atas izin Allah) untuk pindah ke kelas Digital
Parenting adalah keputusan yang tepat. Allah memang paling tahu kebutuhan
ummat-Nya.
Sebagai calon orang tua yang akan
melahirkan anak gen Z, alias digital native, saya dan kita semua harus memiliki
persiapan. Salah satunya adalah persiapan ilmu. Seketika, saya ingat salah satu
teman di Ilmu Komunikasi (Ilkom) UGM. Dia yang predator buku, punya perpustakaan
pribadi di kamar, serta sangat melek dan update informasi digital (baik konten
maupun tools), pernah berpendapat, “setidaknya dari pasangan ayah
dan ibu, minimal ada satu orang yang paham digital.” Biar apa? Agar
anak-anak kita tidak tersesat saat berselancar ke dunia digital.
Apa Saja yang
Didapatkan Dalam Seminar Digital Parenting?
Pertama, kami mendapatkan pengetahuan tentang informasi mengenai usia dan
durasi waktu penggunaan gadjet bagi anak. Selain itu, Pak Hilman juga
memaparkan berbagai macam data yang “mengerikan” terkait dampak penggunaan tools
digital bagi anak-anak. Mulai dari dampak psikologi (kecanduan), kesehatan,
hingga kehilangan kepekaan sosial.
Sebagai orang tua modern yang tidak
lepas dari hal-hal yang berbau digital, seperti gadjet, leptop, dsb. Anak pun
akan turut terpapar, apalagi jika setiap hari mereka melihat kita menggunakan
semua tools itu. Secara langsung dan tidak langsung, anak akan
mempelajari hal yang sering kita lakukan.
Banyak orang tua memberikan gadjet
untuk anak, agar anak tidak salah bergaul dengan teman sebayanya. Khawatir si
anak akan terjerumus dan salah pergaulan membuat orang tua menjadikan gadjet
sebagai solusi agar anak betah di rumah. Namun, orang tua kadang tidak sadar, bahwa
fasilitas digital yang diberikan, dapat menjerumuskan mereka pada keburukan
jika orang tua tidak pandai mengajari mereka bagaimana berinternet yang sehat.
Internet memungkinkan setiap orang
melakukan aktivitas komunikasi kepada siapapun, melampui sekat negara dan
samudra (no border). Raga si anak bisa saja berada di dalam kamar,
tetapi, jiwanya berlari jauh menembus batas ke berbagai hal dan apa saja yang
ingin mereka ketahui. Melalui apa? Melalui gadjet yang kita berikan, yang
katanya, sebagai wujud rasa sayang kita kepada anak.
Kedua, Pak Hilman juga memberi tahu bahwa komunikasi yang kurang baik
antara orang tua dan anak, akan menjadi pemicu hubungan yang kurang harmonis. Hal
ini akan menyebabkan anak menjadi lebih tersesat di dunia digital. Oleh karena
itu, jika anak memiliki rasa ingin tahu yang besar, seringkali bertanya ini dan
itu, bersabarlah untuk menjawab semua pertanyaannya.
Misalnya, pertanyaan seputar seks.
Apabila kita kurang sabar dalam menjawab, bahkan entah sadar atau tidak sadar
berkata, “Masa ini aja ga tau, coba cari sendiri dulu lah!” Atau “Nanti
saja, kamu kan masih kecil. Gak baik nanya begini.” Sadarlah bahwa si anak
sedang dalam bahaya. Mereka yang penasaran akan mencari sendiri jawabannya, bisa
ke teman-temannya, orang disekitarnya, bahkan internet di tangannya, sampai
mereka puas dengan jawaban yang diterimanya.
Bagaimana jika mereka bertanya pada
orang yang tidak tepat? Bagaimana jika mereka mencari sendiri jawabannya di
dunia maya? Bagaimana jika jawaban-jawaban yang mereka dapatkan salah bahkan
disampaikan dengan cara yang juga salah. Tentu ke depannya akan menjadi
masalah.
Ketiga, selain mendapatkan beragam informasi tentang bahaya digital tanpa
literasi. Kak Hilman juga memberikan pelatihan untuk peserta seminar jika si
anak sudah terlanjut terkena candu. Baik, candu gadjet, games, bahkan konten
porno.
Bagaimana jika
anak telah terpapar konten porno?
Suatu ketika, jika anak kita bilang,
“Mah, Pah, tadi aku diliatin video xxxx gitu sama teman-teman.”
Perlu diingat, bahwa jangan
memperlihatkan ekspresi yang berlebihan, apalagi langsung meledak dalam
kemarahan. Tenangkan dulu diri sendiri dengan beristighfar, lalu ajaklah
anak berdialog dengan baik. Berikut cara membangun berkomunikasi dengan dialog
yang dicontohkan Pak Hilman;
“Kakak nonton apa?” Bertanya-lah
dengan intonasi yang tenang, agar anak nyaman bercerita.
“Kakak nonton bla bla bla.” Anak
biasanya akan menjawab dengan jujur. Ingat, jangan kaget dan jangan marah!!
Lanjutkan mencari informasi lebih dalam dengan bertanya, usahakan suara tetap
dalam intonasi tenang, walau sekalipun kita akan terkaget-kaget dengan
jawabannya.
“Kakak lihat apa aja Kak?”
pertanyaan ini akan memancing anak untuk menceritakan apa yang dia lihat ketika
menonton video yang diberikan teman-temannya.
“Kakak lihat orang begini, lalu
begitu.” Jika anak dapat menceritakan dengan detail apa yang dilihatnya. Artinya,
si anak sudah terpapar konten porno. Kita tetap harus tenang dan lanjutkan
bertanya.
“Oiya, kakak nonton sama siapa aja?”
pertanyaan ini akan menggali informasi, siapa-siapa saja teman yang ikut nonton
bersamanya. Sehingga, nantinya dapat dikomunikasikan dengan orang tua teman
anak yang ikut menonton.
“Menurut kakak kalau nonton begini
dosa gak?” Pertanyaan ini akan memancing pemahaman anak untuk memilah sesuatu
yang baik dan buruk untuk dirinya dalam kaca mata agama. Hal ini penting,
selain mengingatkan anak pada kampung akhirat, pertanyaan ini akan membuat anak
lebih peka dalam meninggalkan larangan dan maksiat.
Jika si anak menjawab dosa, maka
lanjutkanlah pertanyaan, “Ohh jadi nonton begituan dosa ya kak. Jadi kalau ada
teman kakak yang ngajak nonton lagi gimana?”
Jika anak menjawab, “Aku gak mau
lagi. Kalau temanku memaksa, aku lari saja.” Artinya, anak-anak sudah punya
benteng yang cukup kuat.
Namun, jika anak tidak tahu menonton
video porno dosa dan tidak tahu harus melakukan apa, maka nasihatilah dengan
baik. “Kalau ada teman kakak ngajak nonton video seperti itu, kakak jangan mau
ya. Karena melihat aurat orang lain kan tidak baik dan itu dosa. Kalau teman
kakak masih memaksa, laporkan saja ke bapak ibu guru, atau kakak lari
sekencang-kencangnya. Pulang ke rumah, laporkan ke mamah papah.”
Lalu, bagaimana
jika anak candu dalam bermain Games?
Orangtua harus tahu nama-nama games
yang hits di kalangan anak-anak atau remaja, agar ketika memulai komunikasi
dapat membangun dialog yang ‘nyambung’. Karena bisa jadi, anak-anak telah memainkan
berbagai macam games yang mengandung konten porno atau games yang berbau
kekerasan yang bersifat pembunuhan atau pembantaian.
Mulailah dengan dialog…
“Adik suka main games?” Bertanyalah
dengan hangat di jam-jam santai.
“Suka!”
“Adik suka main games apa?” Cari
tahu nama-nama games yang sering mereka mainkan. Jika games yang mereka mainkan
mengarah ke konten porno dan kekerasan, berilah pertanyaan dan nasihat seperti
yang telah ditulis sebelumnya di atas.
Selanjutnya, berilah
pertanyaan-pertanyaan pancingan agar mereka dapat mengurangi intensitas bermain
games. Pertanyaan bisa diawali dengan hal-hal yang bersifat santai. “Adik kalau
main games berapa lama?”
“Tiga jam.”
“Gimana cara mainnya?” Mintalah anak
menirukan bagaimana posisi ketika mereka memainkan games. Pertama, biasanya
leher anak akan merunduk melihat ke layar gadjet dan jari-jari mereka akan
bergerak cepat mengikuti arah permainan.
“Dik… coba adik menunduk seperti ini
terus selama tiga jam. Kira-kira gimana?” Bertanyalah dan mintalah mereka
melakukannya sampai mereka capek dan lelah.
Ketika mereka menyerah dan mengeluh,
maka silahkan dinasihati dengan terlebih dahulu memberi informasi. “Adik tahu
gak, menunduk seperti itu terus dalam jangka waktu yang lama (lebih dari 1
jam), akan membuat leher kita pegal. Nanti, leher tidak dapat menopang kepala
kita dengan baik. Bisa-bisa nanti kepala kita tidak kembali lagi seperti
biasa.” Berikan juga informasi-informasi bersifat ilmiah. Misal, anak akan
mengalami sakit A, B, C, jika terlalu sering menunduk. Silahkan ayah dan bunda searching.
hehe
Kemudian, ajak anak untuk melakukan
gerakan jari seolah sedang memainkan games. “Coba adik seperti ini selama tiga
jam. Gimana rasanya?” Sebenarnya, Pak Hilman memberikan informasi kepada kami
tentang penyakit-penyakit fisik yang dapat terjadi jika keseringan menggerakkan
jari seperti memainkan games. Maaf keuuun… Lupa mencatatnya hehe… Seraching
sendiri yaa!!
Setelah anak dipahamkan dengan
berbagai efek negatif yang terjadi pada fisik jika keseringan memainkan games, selanjutnya
cobalah nasihati mereka dengan baik. Memberikan izin untuk bermain games
sah-sah saja, tapi orangtua dan anak harus berkomitmen dengan durasi waktu
bermain games. Durasi waktu seharusnya disesuaikan dengan usia mereka. Selain
itu, pilihlah games yang kontennya tidak merusak akidah, berbau porno, dan syarat
akan kekerasan.
Kisah Ibu Berkarir dan Anaknya yang Bunuh Diri
Banyak rentetan permasalahan yang telah dijabarkan selama materi berlangsung. Pak Hilman juga menceritakan kisah seorang Ibu yang menyesal menangis kepadanya. Anaknya, seorang perempuan, terkena candu permainan games.
Saya lupa cerita detailnya. hehe.. maafkeun ya pemirsaah.. Si anak kalah, pergi ke dapur dan menusuk lehernya dari belakang dengan pisau. Ibunya histeris dan bilang ke Pak Hilman, jika si ibu ingin keluar dari pekerjaannya. Menyesal karena terlalu sibuk di luar, sehingga tidak memiliki waktu untuk berkomunikasi dan mengetahui aktivitas anak.
Tanya jawab dan
Ketakutan Ala Jomblo
Judulnya sengaja dibikin agak
dramatis, hehe.. Setelah sesi materi, panitia memberikan kesempatan untuk tanya
jawab langsung ke pembicara. Peserta yang mendapatkan kesempatan untuk bertanya
ternyata dari berbagai kalangan.
Ada seorang tante yang sedang study
di UGM yang menceritakan bagaimana keponakan-keponakan dan teman-temannya di
daerah terpencil Sumatera tidak mendapatkan pendidikan literasi yang cukup
terkait dengan fenomena digital ini. Ada juga seorang guru SD yang menceritakan
kasus yang baru-baru ini terjadi dengan muridnya. Muridnya yang sudah sangat
familiar dengan istilah-istilah berbau seks di usia yang masih kecil. Ada juga
seorang ibu yang memiliki anak-anak dan minta diberikan solusi dalam mendidik
anak-anaknya. Selain itu, juga banyak penanya lain yang bertanya dan sebelumnya
memberikan berbagai macam kasus yang mereka dapatkan. Real di kehidupan mereka
sehari-hari. #mengerikan
Dan… ada juga seorang perempuan,
mengaku alumni Ilkom UGM yang bercerita tentang dosennya yang lebih memilih
untuk memberikan gadjet kepada anak-anak mereka daripada memberikan mereka
televisi. Artinya bahwa, menurut dosennya, lebih mudah mengendalikan gadjet
daripada mengendalikan televisi yang sangat kapitalis. Karena gadjet bak mata
pisau, ada yang tumpul dan ada yang tajam. Maknanya, pemanfaatan gadjet
bergantung pada siapa penggunanya. Dia bisa saja membawa manfaat, bisa saja
membawa keburukan.
Selain itu, si mbak-mbak yang
mengaku bernama Voettie itu (loh berarti saya dong! Wkwkwk). Saat itu juga
mengaku sedang berstatus sebagai dosen di salah satu kampus di Jogja. Artinya,
bisa jadi ke depannya dia akan menjadi wanita karir. Si mbak ini memaparkan
“kekhawatiran dan ketakutannya” pada data-data yang disampaikan pembicara di
awal slide presentationnya plus kenyataan-kenyataan pahit para penanya
sebelum dirinya. Dia berkata, ingin menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya.
Di lain sisi, dia juga punya anak-anak ideologi (mahasiswa) yang juga harus dididik
karena sudah menjadi tugasnya sebagai dosen. Si mbak meminta nasihat dari
pembicara, bagaimana jika suatu saat dia diberikan kesempatan untuk
menikah dan menjadi ibu, dengan kondisinya yang juga sebagai dosen.
Pak Hilman menyampaikan bahwa dia
senang dengan ‘ketakutan’ yang diutarakan oleh pesertanya. Artinya, ada
aware dari orang-orang terhadap case ini. Menjawab pertanyaan tadi,
Pak Hilman menyampaikan kisah keluarganya, kisah dia dan istrinya.
Istrinya adalah seorang dokter. Saat
menjadi ibu, dia memilih untuk menjadi full time mommy. Tidak bekerja di
klinik ataupun di rumah sakit. Setelah anak-anak cukup besar, barulah sang
istri bekerja. Itu pun hanya beberapa jam. “Jangan khawatir soal rezeki. Allah
yang mengatur.” Begitulah kata istri Pak Hilman saat memutuskan untuk resign
dari kerjaannya saat memiliki anak dan menjadi madrosatul ‘ula untuk
anak-anaknya.
“Alhamdulillah… bagaimana pun kami
tidak pernah kekurangan dan merasa kurang.” Kata Pak Hilman.
Lalu, jika harus memilih karir atau
keluarga, tentu aku akan mantap menjawab, “DISKUSI dengan SUAMI!” Haha…
Well, kita tidak tahu bagaimana kondisi kita ke depannya. Saya tahu bahwa
mencari nafkah bukanlah tugas seorang istri, sunnah pun tidak! Keinginan untuk jadi profesional mommy and house wife juga tetap ada dalam sanubari yang paling dalam #ecieee... Tapi, kontribusi
kita untuk pendidikan dan dakwah, tetap harus menjadi pertimbangan. Apakah
tetap lanjut mengajar atau menjadi full time mommy? tentu dapat didiskusikan
kembali.
Himbauan dan
Nasihat Pak Menteri
Ada yang cukup berkesan dalam
seminar kali ini. Di sela-sela diskusi (tanya-jawab) peserta dengan pembicara,
Pak Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara masuk ke kelas Digital
Parenting. Pak Rudiantara menyapa anak-anak dan para orangtua peserta seminar.
Oh ya, saya juga disapa loh sama Pak
Rudi. Beliau bilang, “Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan para calon orang tua.”
Nah, kata “para calon orang tua” ini membuat kami, para singlelillah
merasa terpanggil. #loh
Pak Menteri menyebutkan pentingnya
menjadi orangtua melek digital. Kekompakan suami dan istri juga penting adanya
dalam membentuk keluarga yang literasi. Menjadi orang tua melek literasi digital,
tidak hanya berlaku untuk ibu, sang madrisatul ‘ula (guru pertama). Tapi juga
berlaku untuk Bapak, sang kepala madrasahnya.
![]() |
| Pak Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika |
Pak Menteri juga berharap agar kami,
para orangtua dan calon orang tua peserta seminar dapat memberikan informasi
yang kami terima saat seminar kepada orang lain. Kebaikan berantai, seperti
itulah kiranya. Menjadi kader literasi yang bermanfaat untuk orang-orang
sekitar.
Oleh karenanya, saya mencoba menulis
ulang apa yang saya dapatkan ketika mengikuti seminar-talkshow di kelas Digital
Parenting ini. Harapannya tulisan ini dapat menjadi pengingat bagi saya jika
nanti Allah beri kesempatan untuk menjadi ibu. Lebih lagi, semoga tulisan ini
dapat bermanfaat untuk para orang tua dan calon orang tua yang lain.
Ohya, untuk mengetahui bagaimana
membuat literasi dari fasilitas di gadjet. Silahkan baca disini.


dahsyatt.... pembelajar yang hebat..
BalasHapus