![]() |
| Teman Hijrah |
“Maaf ya Voe. Jangan tersinggung.
Dulu aku benciiiiii banget sama kamu. Benci dengan jilbab kamu. Benci sama
pakaian yang kamu pakai. Benciii sekali.” Kata seorang muslimah berkerudung
panjang di hadapanku saat kami sedang makan mie ayam. Aku tersenyum, lalu
tertawa.
“Jujur ya Voe. Aku dulu gak suka
banget loh sama ukhti-ukhti jilbaban panjang kayak kamu. Pas tahu ada kamu atau
kamu lewat. Beeh.. rasanya males banget.” Kata seorang teman yang lain saat
kami sedang bepergian bersama.
Tidak sekali dua kali teman-temanku
memberikan pengakuan seperti ini. Aku senyum cengengesan ketika mendengar
kalimat-kalimat seperti ini muncul dari lisan mereka. Aku melempar masa, masa
dimana aku sama dengan mereka, yang pernah tak suka dengan perempuan-perempuan
berjilbab syar’i.
Lalu, syukur kurasakan penuh dekap.
Sungguh, Allah Maha Pembolak-balik hati. Tak pernah menyangka, sejak sepuluh
tahun lalu (awal 2007) hingga detik ini (dan semoga selalu istiqomah),
aku masuk ke dalam barisan mereka, perempuan-perempuan berjilbab panjang.
Menjadi seorang muslimah adalah
anugrah. Diberikan kesempatan untuk merasakan nikmatnya berpakaian syar’i
adalah hidayah.
Apa kau kira menjadi muslimah (yang
mencoba belajar taat) itu gampang?
Allah dalam surat cinta-Nya
berfirman,
"Apakah manusia mengira setelah mereka mengikrarkan dirinya bahwa dia beriman, lantas mereka dibiarkan tidak diuji? Sungguh, orang-orang yang terdahulu pun telah Kami uji. Yang dengan ujian ini, maka akan teranglah siapa yang jujur dalam pengakuan imannya, dan siapakah yang dusta." [QS. Al-Ankabur: 2-3]
"Apakah manusia mengira setelah mereka mengikrarkan dirinya bahwa dia beriman, lantas mereka dibiarkan tidak diuji? Sungguh, orang-orang yang terdahulu pun telah Kami uji. Yang dengan ujian ini, maka akan teranglah siapa yang jujur dalam pengakuan imannya, dan siapakah yang dusta." [QS. Al-Ankabur: 2-3]
Dibenci, difitnah, dijauhi, rasanya
adalah makanan kami sehari-hari. Dulu bahkan hingga saat ini. Kadang terselip
iri dengan para ikhwan, ‘Mereka mah enak, pakaiannya fleksibel banget, gaulnya
juga fleksibel. Sedang kami? Mau masuk ke ranah manapun dan bergaul dengan siapapun,
kami ya harus begini (berpakaian syar’i)’.
Tapi…
Yang namanya hijrah memang selalu
ada warnanya, dan gak mudah tentunya. Rasulullah saw hijrah dari Mekkah ke
Madinah dalam keadaan terancam dan diburu. Dan tentu, pengalaman hijrahku belum
ada apa-apanya dibanding dengan Rasulullah dan para sahabat.
Aku…
Saat memutuskan untuk hijrah dan
berjilbab mendapatkan penolakan dari mamahku. Dimarahin, iya. Diomelin, iya.
Ditakut-takutin, apa lagi! Tapi, yang namanya hijrah kata guru ngajiku, gak ada
ujiannya bagai sayur tanpa garam. Hambar… #ecieee
Aku belum seberapa…
Teman SMA-ku, ada yang dipotong ujung
jilbabnya. Ada yang tak diizinkan berangkat sekolah. Ada yang dipermalukan di
depan tetangga. Ada yang dipukul bapaknya. Dulu, saat masa-masa SMA itu
(2006-2009), satu muslimah mengenakan hijab adalah moment paling spesial yang
kami rasakan. Lebih menyenangkan dibandingkan mendapat nilai 100 di pelajaran
kimia. Ehhehe..
Hijrah Jaman Now…
Setiap orang pasti Allah berikan
sinyal hidayah. Mendengar adzan, melihat orang solih, diajak kajian, bisa jadi
adalah sinyal hidayah dari Allah. Namun, tak banyak orang mau peka dengan kode
sinyal hidayah yang Allah berikan. Ada yang menghindar. Ada yang menolak. Tapi,
tak sedikit juga yang mau menjemput sinyal tersebut.
Hijrah jaman now memang gak gampang.
Tiap masa ada aja ujiannya. Saat kami sedang belajar mengaji seorang teman
bertanya, “Voe.. aku tuh pengen belajar agama dan hijrah gitu. Tapi yang
bener-bener belajar Islam. Soalnya sekarang isi kajian pada bahas nikah lah,
jodoh lah.”
Youp!!
Seorang yang ingin hijrah pasti penasaran
dengan agamanya. Pengen belajar dari NOL. Masih ingat waktu awal ikut liqo’an,
materi pertama yang diajarkan adalah tentang Syahadatain. Materi ini bersambung
hingga beberapa kali pertemuan. Sebab syahadatain adalah gerbang awal Islam. Dan
inti dari Tauhid.
Waktu masih jadi mahasiswa FISIP
UNIB, materi-materi kita ya bahas muslimah, negara, peradaban, dakwah, politik, buku,
dan sebagainya. Gak ada bahas ikhwan. Tabu bahas nikah. Apalagi cinta-cintaan. Keknya tuh aib banget kalo sudah bahas hal-hal mewek. Plus kalo seminar-seminar, materinya bener-bener ukhrowi, jauh dari nilai-nilai baperan. Akhwat FISIP mah seterooong (haha gitu sih dulunya #sokbanget).
Jaman now??
Ya.. ujiannya beda lagi. Ngaji di
masjid A, bahasnya nikah. Ngaji di masjid B, bahasnya anak. Ngaji di masjid C,
alhamdulillah tentang hijrah. Eh tapi hijrahnya masih bahas jodoh-jodoh segala. Materi-materi
dasar (like) syahadatain, takwa, tauhid, dsb menjadi kurang hits. Ada
sih, tapi tertutup dengan euforia cinta.
Salah?
Ya gak juga sih. Aku coba menjawab
pertanyaan temanku, “Barangkali emang udah umurnya kita kali. Jadi denger-denger
yang begituan jadi sensitif. Padahal di tempat dan masjid lain banyak kok yang
bahas Islam dari dasar dan detail. Nikah kan ibadah seumur hidup, panjang, dan
nilainya gedek (1/2 agama) jadi yaa huznudzon aja jadi bahas terus. Hehe… ya udah kamu liqo aja (#ciee rekrutmen wkwk)”
Menjadi manusia hijrah jaman now
harus kuat. Bertahap dan terus berusaha istiqomah. Kalau dulu kita mau jilbab
panjang susaaahnya dapat izin. Sekarang mah jilbab panjang dah jadi semacam
trend. Nah ini ujiannya. Gimana menjadikan jilbab yang konon sekarang dianggap trend
sebagai salah satu bukti ta’at kita pada Allah. Bukti kalo kita lagi
berusaha buat mencium baunya surga.
Yaah.. menjadi muslimah, kita harus
siap. Siap menjadi [fitnah] dan siap menjadi sebaik-baik [perhiasan dunia]. Dan
yang lebih harus disiapkan lagi adalah mental. Mental ketika dibilang sok suci,
dibilang muna, dibilang aliran, dijauhin genk main, dibilang kayak emak-emak, dibilang kampungan. So what?! Percaya, kalau niat hijrah
karena Allah, Allah pasti bantu!
Gak gampang sih. Tapi hadiahnya itu
loh. SURGA!
Oiya.. Selamat hijrah temanku
sayang. Mari kita sama-sama saling tarik menarik ke surga. Jika nanti tak kau
temukan aku di surga, tanyakan pada Allah dan bawa aku bersama kalian. T_T

Tidak ada komentar:
Posting Komentar