Selepas wisuda (April), aku
menganggap bahwa Mei dan Juni (2017) adalah masa-masa terakhirku di Yogyakarta.
Study masterku sudah rampung dan saatnya untuk pulang ke Bengkulu, birul
walidain (bahasa kerennya).
Maka, saat resmi bergelar sebagai pengangguran,
aku menggunakan kesempatan itu untuk mengikuti berbagai event ruhiyah yang
diadakan di masjid-masjid Jogja (sekaligus mempersiapkan ruhiyah menyambut
bulan Ramadhan). Karena aku tahu, di Bengkulu belum tentu aku bisa menemukan event
yang sama. Aku pun tak tahu, kapan aku bisa menikmati kajian dan Ramadhan di
Jogja [lagi].
Barangkali Ramadhan 1438 H adalah
Ramadhan terakhirku di Yogyakarta, dan bisa jadi Ramadhan terakhir selama
hidupku. Alhamdulillah, saat itu ada kegiatan Qur’an Camp yang diadakan
oleh Lembaga Dakwah Kampus (LDK) UNY.
Aku mendaftar di kelas tahfidz. Setelah
mengikuti serangkaian test, Allah mengizinkan ku untuk mengikuti kegiatannya.
Di hari pertama, aku mencoba untuk
menambah hapalan baru, tapi rasanya sulit sekali. Musyrifah menganjurkanku
untuk muroja’ah dan memperkuat hapalan lama (yang memang mulai hilang-hilang.. #astaghfirullah)
Malamnya, selepas setoran dan
mendengarkan kajian, para akhwat (saudara perempuan #jamak) tidur di
lantai 2. Aku akui aku sangat lelah waktu itu. Euforia tesis masih kental
sekali terasa. Tidur menjadi tak sehat, aku sangat gampang ngantuk dan tertidur
walaupun dalam posisi duduk sekalipun. Hehe.
Di lantai 2, wajah kuhadapkan ke
langit-langit Masjid Mujahidin UNY. Aku merenungi malam-malamku. Merutuki hapalan
yang tak kunjung bertambah dan kuat.
Aku mencoba menutup malam dengan
mengingat-ingat memori selama di Jogja. “Aku pasti akan sangat merindukan Jogja,”
pikirku.
Aku belajar untuk tidak mengkhwatirkan
masa depanku, tapi hati ku kadang penasaran, “Kemanakah Allah akan mengarahkan
kakiku selanjutnya untuk berpijak?” Air mataku menetes sendiri, mengingat
berbagai nikmat yang telah Allah berikan. Benarlah firmannya dalam Qur’an Surah
Luqman;
“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya kalimat Allah tidak akan habis dituliskan kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana" [QS 31:27]
“Aku pasti akan merindukan kajian di
Jogja.”
“Aku pasti akan merindukan Annida.”
“Aku pasti akan merindukan UGM dan
maskam.”
“Aku pasti akan merindukan masjid
Mujahidin ini.”
“Aku pasti akan merindukan semua
tentang Jogja.”
Banyak pertanyaan menari-menari di
kepala ku, yang kemudian membawaku terbang dalam tidur.
**
September 2017, aku butuh me-time,
selepas melaksanakan tugas yang diamanahkan dari pagi hingga siang hari.
Aku duduk di sebelah tiang besar lantai 2 masjid, membaca mushaf kecilku sampai puas. Aku
cukup lelah waktu itu, ku sandarkan punggungku ke tiang masjid dan ku hadapkan wajah
ke langit-langit.
![]() |
| Langit-Langit Lt.2 Masjid Mujahidin UNY. |
Seketika, aku ingat malam itu, malam
di bulan Mei (empat bulan yang lalu). Aku tidur di bawah langit-langit masjid
yang sama, langit-langit Masjid Mujahidin. Dan iya!! Aku kembali lagi ke
Jogja!! Jogja yang kucintai karena Islamnya!
…. Haru pun datang. Aku ingat semua
pertanyaanku malam itu. Sungguh, Allah Maha Baik. Seolah Dia ingin menunjukkan
padaku, betapa mudahnya segala sesuatu itu terjadi atas izin-Nya.
Hijaunya langit-langit lantai 2 Masjid Mujahidin
membuatku menyelam lebih dalam akan surat cinta-Nya “Nikmat Allah yang mana yang mampu kau dustakan?”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar