Minggu, 10 September 2017

Menanti Jodoh yang Telah Pasti

“Jika seorang muslimah harus bepergian bersama mahromnya (pada kasus berhaji). Lantas, bagaimana dengan muslimah perantau yang melanjutkan studi tanpa mahrom dan jauh dari keluarga?”
Kurang lebih begitu pertanyaan yang ditulis seorang jama’ah wanita (akhwat) saat Kajian Tasqif di Masjid Nurul Barokah. Pertanyaan ini ditujukan untuk pembicara kami pagi ini, Ustad Solihun al-hafidz, dai Yogyakarta yang Sabtu pagi tadi membahas tentang Peristiwa Haji sebagai Peristiwa Tauhid.

Sebenarnya, banyak materi yang lebih penting yang disampaikan oleh Ustad Solihun terkait Peristiwa Haji. Tapi, pertanyaan jama’ah ini membuatku ‘baper’ sejenak. Aku pernah mendengarkan pertanyaan serupa dari salah saorang peserta kajian dan dijawab lugas oleh sang Ustad.

Jawabannya senada, sebaiknya wanita ketika bepergian sebisa mungkin ditemani mahromnya, ntah itu ayah, saudara laki-laki ataupun suaminya. Namun, jika seorang wanita keluar dari rumahnya dalam rangka menuntut ilmu (belajar) dan di wilayah yang aman, maka boleh dia keluar. Asalkan, wanita ini mampu menjaga dirinya dari fitnah, dan mampu menjaga dirinya agar tidak menjadi fitnah bagi orang lain (laki-laki).

Dan inilah mengapa, selepas wisuda dan menyelesaikan project masjid, aku memutuskan untuk pulang ke Bengkulu. Dekat dengan mahromku. Aman. Tenang.

Tapi, aku menyadari bahwa rumah, juga bukan tempat yang aman bagiku. Ada “racun” yang sebisa mungkin harus kuhindari. Qodarullah, barangkali inilah takdir Allah dan cara Allah untuk menjagaku.

Saat ini, aku tahu kembalinya aku ke Yogyakarta bukan dalam rangka belajar ilmu formal. Aku kembali karena panggilan, yang oleh orang-orang disebut ‘bekerja’. Status ‘bekerja’ inilah yang kemudian membuatku berfikir tentang mahrom. Aku harus bersama mahromku. Boleh jadi saudara laki-laki, ataupun pasangan halal, yang hmmm.. saat ini belum pasti.

Tapi, sejatinya aku masih menolak menyebut aktivitasku sebagai bekerja. Aku lebih senang menyebutnya dengan ibadah. Berkontribusi untuk ummat. Mengisi waktu dengan kebaikan. Hingga masanya tiba. Masa dimana jodoh yang pasti akan bertamu. Tanpa mengetuk pintu. Tanpa permisi. Tanpa tahu kapan pastinya dia kan datang. Tapi yang pasti, dia akan datang.

Jodoh yang pasti ini adalah maut.



_______________
Voe, Jogja 090917
Note

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

27 nih, Kapan Nikah?

“ Apa lagi yang dicari? ” Tanya sopir go-car  padaku saat aku menumpang mobilnya untuk diantar ke hotel dimana sepupuku dan suaminya meng...