“Jika seorang muslimah harus bepergian bersama mahromnya (pada kasus berhaji). Lantas, bagaimana dengan muslimah perantau yang melanjutkan studi tanpa mahrom dan jauh dari keluarga?”
Kurang lebih begitu pertanyaan yang ditulis seorang jama’ah
wanita (akhwat) saat Kajian Tasqif di Masjid Nurul Barokah. Pertanyaan ini
ditujukan untuk pembicara kami pagi ini, Ustad Solihun al-hafidz, dai
Yogyakarta yang Sabtu pagi tadi membahas tentang Peristiwa Haji sebagai
Peristiwa Tauhid.
Sebenarnya, banyak materi yang lebih penting yang
disampaikan oleh Ustad Solihun terkait Peristiwa Haji. Tapi, pertanyaan jama’ah
ini membuatku ‘baper’ sejenak. Aku pernah mendengarkan pertanyaan serupa dari
salah saorang peserta kajian dan dijawab lugas oleh sang Ustad.
Jawabannya senada, sebaiknya wanita ketika bepergian sebisa mungkin ditemani mahromnya, ntah itu ayah, saudara laki-laki ataupun suaminya. Namun, jika seorang wanita keluar dari rumahnya dalam rangka menuntut ilmu (belajar) dan di wilayah yang aman, maka boleh dia keluar. Asalkan, wanita ini mampu menjaga dirinya dari fitnah, dan mampu menjaga dirinya agar tidak menjadi fitnah bagi orang lain (laki-laki).
Dan inilah mengapa, selepas wisuda dan menyelesaikan project
masjid, aku memutuskan untuk pulang ke Bengkulu. Dekat dengan mahromku. Aman.
Tenang.
Tapi, aku menyadari bahwa rumah, juga bukan tempat yang aman
bagiku. Ada “racun” yang sebisa mungkin harus kuhindari. Qodarullah, barangkali
inilah takdir Allah dan cara Allah untuk menjagaku.
Saat ini, aku tahu kembalinya aku ke Yogyakarta bukan dalam
rangka belajar ilmu formal. Aku kembali karena panggilan, yang oleh orang-orang disebut ‘bekerja’. Status ‘bekerja’ inilah yang kemudian
membuatku berfikir tentang mahrom. Aku harus bersama mahromku. Boleh jadi
saudara laki-laki, ataupun pasangan halal, yang hmmm.. saat ini belum pasti.
Tapi, sejatinya aku masih menolak menyebut aktivitasku sebagai bekerja. Aku lebih senang menyebutnya dengan ibadah. Berkontribusi untuk ummat. Mengisi waktu dengan kebaikan. Hingga masanya tiba. Masa dimana jodoh yang pasti akan bertamu. Tanpa mengetuk pintu. Tanpa permisi. Tanpa tahu kapan pastinya dia kan datang. Tapi yang pasti, dia akan datang.
Tapi, sejatinya aku masih menolak menyebut aktivitasku sebagai bekerja. Aku lebih senang menyebutnya dengan ibadah. Berkontribusi untuk ummat. Mengisi waktu dengan kebaikan. Hingga masanya tiba. Masa dimana jodoh yang pasti akan bertamu. Tanpa mengetuk pintu. Tanpa permisi. Tanpa tahu kapan pastinya dia kan datang. Tapi yang pasti, dia akan datang.
_______________
Voe, Jogja 090917
Note

Tidak ada komentar:
Posting Komentar