Minggu, 29 Oktober 2017

Digital Parenting : Menjadi Orang Tua Baik di Era Digital

Dalam rangka Dies Natalis FISIPOL Ke-67, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) juga turut ambil bagian untuk menyukseskannya dengan membuat Festifal Literasi Digital #FIRAL. Festifal ini berlangsung tanggal 15 Oktober 2017 di Convention Hall, Gedung FISIPOL UGM. 

Rangkaian acara terdiri dari Creatalks, yaitu seminar dan talkshow menjadi produktif dengan konten yang positif dan kreatif. Pembicaranya mulai dari Pak Menteri Kominfo, Rektor UGM, Dekan FISIPOL, Praktisi, dan Akademisi. Kegiatan selanjutnya adalah Masterclass, kelas aktif dengan materi pengajaran dari mentor profesional di bidangnya.

Materclass terdiri dari empat kelas dengan tema yang berbeda. Keempatnya dilaksanakan di waktu dan lokasi yang sama, namun di ruangan yang terpisah.

Kelas 1 – Workshop KIDi -. Tema : Be Amazing with Infographic Thingking, yang langsung dibersamai oleh master coach Dhonny Firmansyah, seorang pakar slide presentasi dan infografis dari kreasipresentasi.com. Sehemat pemahaman saya, workshop ini akan mengajari pesertanya agar dapat membuat presentasi yang kreatif dan inovatif.

Kelas 2 – Indonesiabaik.id – Tema : Be Productive in 60 seconds with ur Smartphone. Pengajarnya : Iqbal Rezeki Awal, seorang Cyber Creator dari Pramuka yang akan mengajarkan bagaimana membuat konten dalam 60 detik. Saya sempat stalking ke websitenya saat mencari informasi tentang apa yang akan diajarkan di kelas ini. Di indonesiabaik.id saya menemukan berbagai macam konten positif yang dikemas dengan animasi digital yang menarik. Menurut hemat saya, kelas ini sangat cocok bagi anak muda yang tertarik dalam desain animasi.

Kelas 3 – INCAKAP – Tema : Digital Parenting, yang dibersamai langsung oleh Hilman Al-Madani- psikolog dan Trainer dari Yayasan Kita dan Buah Hati. Di kelas ini Pak Hilman akan memberikan tips menjadi orang tua yang baik di era digital. Kelas ini sangat cocok untuk diikuti oleh semua kalangan, wabilkhusus orang tua, guru, dan siapa saja yang berhubungan dengan dunia anak-anak.

Kelas 4 – Siberkreasi – Tema : How to be Rich at Young Age in Digital Era. Pengajar : Gerald Sebastian seorang co-founder kokbisa.com yang akan mengajarkan bagaimana menjadi kaya dan berpenghasilan di usia muda melalui digital.

Sabtu, 28 Oktober 2017

S3 di Luar Negeri? Why Not!

Mau ke negara mana?
Sejak awal menjadi salah satu dosen muda di UNY, kami selalu dimotivasi (baca : paksa) untuk segera lanjut studi S3. Katanya, mumpung masih muda. UNY ingin kami segera berikhtiar untuk mendapatkan beasiswa apa saja, asal dapat berkuliah di kampus-kampus terbaik di bumi ini.

Siapa sih yang tidak mau study lanjut ke luar negeri? Apalagi gratisan. Sedari awal, orang tua sudah memberi lampu hijau berupa izin dunia akhirat, jika aku bisa tembus studi ke luar negeri. Hehe.. Tapi, barangkali memang effortku yang belum maksimal. Bahasa Inggris yang notabennya sebagai bahasa pengantar pun aku masih gak jelas begini. #melipirketembok

Pengen banget rasanya tinggal di negara, dimana namaku bukan nama yang aneh dan asing bagi penduduk negara tersebut. Well, setidaknya ketika mereka mendengar kata “Voettie Wisataone”, mereka tidak berasa unik gitu. Apalagi sampai ditanya-tanya, "arti namanya apa? kok namanya begitu? kenapa, loh, why, pasti orang tuanya dulu begini dan bla bla bla..." Hehe…

Menjadi Korban Perceraian, Bukan Pilihan

“Terlahir dari keluarga yang broken home bukanlah keinginan kami. Kami adalah korban.” Temanku bercerita sambil meneteskan air mata. Hatiku gemuruh. Tanpaku sadari, air mataku ikut jatuh. Benar. Tak ada seorang pun yang menginginkan orang tua mereka berpisah. Bahkan dipisahkan kematian sekalipun. Tapi, jika perceraian sudah menjadi pilihan dan Allah setujui, kita bisa apa?

Menjadi Korban Perceraian, Bukan Pilihan
Kalimat yang dilontarkan temanku tadi mengingatkanku pada teman-temanku yang lain. Satu persatu wajah mereka terlintas begitu saja. Ada yang terlahir dari ibu yang keras kepala. Tiga kali gagal dengan pernikahan dan akhirnya memilih menjanda. Si Ibu bahkan menjadikan temanku, perempuan bertubuh mungil itu sebagai tulang punggung keluarga. Membiayai semua kebutuhan (baca: keinginan) sang Ibu dan membiayai semua kebutuhan perkuliahan sang Adik.

“Alhamdulillah… Voe.. Alhamdulillah Allah kasih aku keahlian untuk nulis. Bahasa inggris yang baik. Aku gak boleh ngeluh. Aku masih bisa usaha dengan kedua belah tanganku untuk ngirimin ibuku duit.” Begitu katanya sebelum kami berpisah pasca wisudanya. Di balik pagar, haru menyeruak memenuhi hati. Terlalu, jika aku tak qonaah dengan semua yang Allah berikan.

Kamis, 12 Oktober 2017

Pertanyaan Aspek Mendasar Menuju Pernikahan

Membangun sebuah keluarga sakinah, mawaddah, wa rohma berorientasi akhirat tentulah menjadi dambaan setiap insan. Salah satu ikhtiar dalam membangun keluarga surgawi itu adalah dengan mempersiapkan diri sebaik mungkin. Persiapan apa yang perlu menjadi pertimbangan para single?

Ustad Cahyadi Takariwan dalam Kajian Pra Nikah di Masjid Nurul Ashri Yogyakarta menjawab dengan membaginya dalam dua pertanyaan penting. Pertama, tentang Pertanyaan Aspek Mendasar dan kedua Pertanyaan Aspek Kesiapan yang masing-masing terdiri dari 10 pertanyaan.

Foto Pernikahan Ukhti Marliah (salah satu personil brigade 09)
source : FB Marlia

Pertanyaan Aspek Mendasar

27 nih, Kapan Nikah?

“ Apa lagi yang dicari? ” Tanya sopir go-car  padaku saat aku menumpang mobilnya untuk diantar ke hotel dimana sepupuku dan suaminya meng...