Jumat, 29 September 2017

10 Detik Menelpon Aku di Masa Lalu


Apa yang akan kamu katakan jika kamu memiliki 30 detik untuk menelpon dirimu sendiri 5 tahun yang lalu?

Mendapatkan pertanyaan ini aku mencoba mengingat-ingat masa lima tahun lalu, saat umur masuk 21 tahun. Semester tujuh, baru selesai KKN dan masa transisi ditolak magang. September akhir, aku dan lima orang temanku sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan diri untuk mengikuti Olimpiade Koperasi Nasional (OKN) yang akan dilaksanakan bulan November 2012.

Akan kuluruskan makna dari “mempersiapkan diri”. Kami tidak hanya mempersiapkan diri untuk mengikuti perlombaan dengan belajar dan menghapal undang-undang serta kebijakan baru terkait koperasi. Tapi, kami juga harus mempersiapkan diri untuk mencari sponsor keberangkatan kami ke Yogyakarta. Dua kerjaan sekaligus.

Tahun 2012, Kopma Unib mengalami guncangan “pesimis” pasca terbitnya berita berjudul “KOPMA KURANG DIMINATI” di harian terbesar di Provinsi Bengkulu. Aku merasa ditampar. Malu. Sebab, foto brand “KOPMA UNIB” yang ku gambar sendiri dengan tanganku beserta warung mini Kopma, dicetak besar di koran itu. Padahal waktu itu, setahun pasca bangkitnya Kopma dari tidur panjang (14 tahun), aku dan tim berusaha membangun citra yang baik dan positif di depan semua orang.

Aku menyayangkan jurnalis yang “sembarangan” dalam mengambil berita dan memuat judul. Posisiku saat itu adalah Kabid Humas. Bagi seorang Humas, tulisan buruk organisasi yang muat diharian bukan hanya tamparan, tapi juga sayatan. Eaaaa… wkwk… Berita itu seperti sebuah kesimpulan jurnalis yang harus dibalas dengan menggunakan “surat pembaca” ala humas. Tapi, aku bisa apa? Aku hanya seorang humas-humas-an ala organisasi kampus.

Kami baru saja melunasi hutang Kopma. Mau membalas berita dengan surat pembaca tentu hal mustahil mengingat untuk mengisi warung dengan jajanan murah meriah saja susah, saking kere-nya Kopma. Memasukkan berita pariwara tentu ada harganya. Kami tak punya dana.

Pengurus inti berkumpul di ruang kuliah. Rapat mendadak. Ini masalah. Sebagai humas organisasi akulah manusia yang paling bertanggung jawab untuk hal ini. Di depan temanku sesama pengurus inti aku berkata, “Kita akan terbitkan berita positif dalam waktu dekat. Liat saja nanti!!”

Untuk organisasi yang baru bangkit dari mati suri yang tak memiliki pendanaan yang besar, membalas berita buruk dengan hal positif, tentu adalah solusinya. OKN 2012 menurutku adalah peluang besar untuk menerbitkan berita positif.

Bersyukurnya saat itu punya tim yang solid dan kompak. Tak peduli bagaimana tanggapan orang waktu itu, demi berangkat OKN, kami berjualan telur. Mulai dari telur puyuh hingga telur asin. Kami coba juga berjualan kue dan makanan khas Bengkulu. Kami melobi walikota yang kala itu akhirnya membeli telur puyuh kami yang seharga Rp 25.000,- dengan harga Rp 2.500.000,-. Lumayan untuk tiket pesawat 3 orang. Artinya, kami harus mencari 3 tiket lagi, karena saat itu yang berangkat 6 orang.

Aku lupa bagaimana detailnya, akhirnya kami berangkat juga ke Yogyakarta dengan menggunakan pesawat. Ini kali pertamanya aku ke Yogyakarta. Kami membawa dua plastik besar berisi oleh-oleh khas Bengkulu. Oleh-oleh ini yang akan kami jual di Yogyakarta sebagai ongkos untuk pulang ke Bengkulu, jika nanti kami tidak menang di OKN.

Drama tak hanya sampai di sini, setibanya di Bandara Soekarno Hatta, kami makan siang ala-ala lesehan. Untuk menghemat anggaran, kami membawa bekal sendiri untuk dimakan bersama. Nikmat. Selesai makan, kami heran, mengapa orang-orang sudah tidak berada di ruang tunggu, hingga kami sadar kami nyaris ketinggalan pesawat. Sangat nyaris!! Sebab, pesawat sudah tinggal take off.  Panggilan terakhir sudah dikunci. Dan kami berada di ruang tunggu terminal yang salah!

Kami menghubungi cs terminal. Mereka langsung menghubungi pesawat. Pesawat bersedia menunggu kami beberapa menit. Dan kami?? Seperti orang dikejar anjing. Berlarian menuju ruang terminal yang berbeda. Posisiku berada paling belakang, aku bisa melihat bagaimana ke-5 orang temanku tergopoh-gopoh. Bahkan para ksatria-nya (panggilan untuk laki-laki-nya Kopma), terlihat sangat lucu membawa kantong-kantong plus kardus besar. Haha…

Yogyakarta memang istimewa. Saat pesawat mendarat di bumi Sri Sultan ini, jantungku berdebar. Hmm.. kota yang sedari dahulu ingin kukunjungi dan kutaklukkan. Mengapa? Ini ada kisahnya sendiri. Cieee… preketek

Kami dijemput panitia dan diantar ke Kopma UGM. Waaaahh… Surprize sekali!! Ini Kopma apa mini market?! Aku ingat Kopma kami yang berukuran 2 x 2,5 m di Bengkulu. Sungguh jauh berbeda.

Karena kami datang 2 hari sebelum lomba. Maka, kami menginap di kosan saudara. Inilah peristiwa yang tak terlupa. Drama selanjutnya dimulai. Hehe… Dalam ekspektasiku, orang-orang Yogyakarta pastilah ramah-ramah. Baik hati dan tidak sombong.

Tapi, malam itu rasanya pahit sekali. Kami tidak diizinkan masuk dan tidur di sana, dengan alasan sebelumnya si Bapak kos tidak diberi tahu jika kami akan menginap. Kami diusir, bahkan sebelum masuk ke gerbang kosan. Padahal sebelumnya, si Bapak Kos sudah diberi tahu. Tegang? Pasti!

Lelah setelah perjalanan, rasanya tidak mood melayani omelan. Alhamdulillah… kami mendapatkan teman yang kosannya bisa ditumpangi. Well, si Bapak memang bukan orang Yogya asli dan memang sudah mulai pikun. Jadi maklum saja. Kejadian ini bikin saya berniat, jika suatu saat punya kos, pengen jadi ibu kos yang baik hati (Aamiin) dan gak sembarangan ngusir orang.

Ohya, walau malam pertama di Yogyakarta disambut dengan hal yang menegangkan ala sinetron. Hari-hari setelahnya, kami mendapatkan banyak kenikmatan dan kebaikan. Kenikmatan inilah yang kemudian membuat kami lupa, bahwa kami pernah di usir sebelumnya. Hehe…

Singkat cerita, dua hari kemudian, kami kembali ke UGM dan mengikuti tehnical meeting di sebuah gedung besar yang dua tahun kemudian baru ku ketahui bahwa gedung itu bernama Grha Saba Permana (GSP). Kami berkenalan dengan teman-teman dari berbagai daerah. Saling bertukar cerita tentang Kopma masing-masing, hingga kami menyimpulkan bahwa Kopma kamilah yang paling miskin dan nekat!

Selepas TM kami menuju Kaliurang. Disanalah kami lomba. Penginapannya sungguh tidak nyaman. Berdebu dan sempit. Well, aku memutuskan untuk mencari penginapan bersama teman satu tim. Haha…

Malamnya kami belajar. Lebih tepatnya ngobrol ber-6. Bahagia bisa sampai Jogja, apalagi setelah mengingat bagaimana perjalanannya.

Singkat cerita, kami mengikuti rangkaian perlombaan hingga akhirnya kami harus puas dengan urutan 10 Kopma Nasional. Seingatku, empat Kopma terbaik akan diadu untuk lomba debat dan saat itu Kopma UNY-lah yang menang. Selepas lomba, aku masih ingat bagaimana kece-nya anak-anak Kopma UNY menawarkan kami bantuan dan penginapan ala kosan. Mereka juga menawarkan kami untuk berkunjung ke Kopma mereka. Ingin sih, tapi sepertinya belum kesampaian berkunjung ke sana, karena kami harus kembali ke kosan teman yang lokasinya di arah selatan. Selain itu, rencana kami selanjutnya menyusuri Yogyakarta.

Genks kita ^_^ OKN 2012

Di kosan teman, aku mulai menulis. Menulis sebuah release yang berjudul: “KOPMA UNIB 10 BESAR OKN 2012”. Disana kubumbui dengan kata-kata, “SATU-SATUNYA KOPMA DARI LUAR JAWA YANG MASUK 10 BESAR”. Sebab, memang yang berada di urutan 1 sampai 9 adalah Kopma-Kopma besar se-Jawa. Tulisan itu kami kirim ke Humas Universitas Bengkulu.

Sebenarnya sih biasa saja. Sebab, masuk 10 besar pun tak ada hadiah untuk kami. Kami tetap harus berjualan oleh-oleh khas Bengkulu yang kami bawa ke Yogyakarta untuk nambah-nambah ongkos pulang. 

Sepulangnya kami ke Bengkulu, release yang kami kirim ke Humas Unib masuk website UNIB (cek disini). Kejutan lainnya, harian terbesar yang pernah menulis berita buruk tentang kami juga memuat berita tentang prestasi kami di OKN 2012. I got it!! Surat pembaca dan pariwara gratis! Yey!!!

Dan aku…

Aku tak pernah menyangka, bahwa perjalanan ke Yogyakarta tahun 2012 merupakan titik awalku mengenal Yogyakarta. Mengenal kampus UGM dan UNY.

Aku tak pernah menyangka, 2,5 tahun setelahnya akan menjadi mahasiswa UGM dan menjadi anggota luar biasa Kopma UGM. Pun tak pernah menyangka, 5 tahun setelahnya akan menjadi salah satu tenaga pengajar di UNY dan fakultas tempatku mengajar berada tepat disebelah Kopma UNY.

Betapa Allah sungguh indah menjalankan perannya sebagai Sutradara Kehidupan. Jika aku berada di titik (lokasi) saat sedang makan ataupun berkumpul dengan lima temanku dulu (Ksatria dan Srikandi Kopma UNIB 2012), aku sering baper sendiri. Sampai tanpa kusadari meleleh juga air mata di pipi. Parahnya kadang sampai sesenggukkan kalau bepergian sama Torda. Gak jarang juga tertawa jika ingat moment lucunya.

Tabarakallah…

Jika aku memiliki 30 detik (baiklah, kukira aku hanya butuh 5-10 detik saja), untuk menelpon diriku sendiri 5 tahun yang lalu, akan kukatakan pada diriku;
“Nikmati saja peranmu… Tugasmu hanya ta’at!”
 
Kopma in action 2012

------
Inspired Pict by : Evan S. Pasura

Inspired Quote by : Aldiles Delta Asmara

1 komentar:

  1. Wahhhhhh.....jd keingat waktu mbk dg hebohny cerita wktu di kopmart ttg ketinggalan pesawat. Semangat mbak.

    BalasHapus

27 nih, Kapan Nikah?

“ Apa lagi yang dicari? ” Tanya sopir go-car  padaku saat aku menumpang mobilnya untuk diantar ke hotel dimana sepupuku dan suaminya meng...