Selasa, 26 Desember 2017

Pentra #12 : Pesantren Bersama Bebas Riba

Gak punya hutang di Bank? Barangkali Anda sudah menganggap diri Anda bebas dari riba, padahal riba bukan hanya sekedar bunga bank. Pesantren Bersama Bebas Riba (Pentra) kembali membuka kelas di Jogja yang dilaksanakan tanggal 25-26 Desember 2017. Di Pentra #12 ini, saya akhirnya menyadari bahwa selama ini, saya pun sudah melakukan riba.

Kegiatan ini sudah saya agendakan dari bulan lalu. Bukan karena saya terlilit hutang di bank, punya cicilan KPR, leasing mobil, kredit motor, dan lainnya. Alhamdulillah saya aman dari itu semua. 

Pentra #12 di Jogja (doc. pribadi)

Mengikuti Pentra #12 Jogja ini saya niatkan untuk mencari ilmu mengenai mu’amalah agar menjadi wasilah hidayah bagi orang-orang di sekitar saya, orang yang saya cintai yang beberapa tahun terakhir terlilit riba bank. Selain itu, saya adalah seorang muslimah yang jika nanti Allah izinkan akan menjadi seorang istri dari suami (tulang punggung keluarga) dan menjadi ibu bagi anak-anak penerus agama ini. Tentu ilmu dan pendapat saya akan diminta oleh mereka nanti, sehingga belajar tentang ilmu ini sangat penting.

Pentra #12 Jogja diikuti oleh berbagai muslim/ah dari berbagai kota, profesi, umur, dan status. Ada yang jauh-jauh dari Sumatera, ada yang berprofesi sebagai pelajar hingga pengusaha, ada yang berumur di bawah 10 tahun bahkan ada yang jelang 70 tahun, dari yang single hingga kakek nenek, mulai dari yang hutangnya 0 rupiah sampai lebih 2 M. Semua bergabung, berjamaah untuk bertolabul ‘ilmy.

Sabtu, 23 Desember 2017

Hal yang Mungkin akan Kamu Alami Ketika Menjadi Dosen Baru

Menjadi salah satu orang baru di sebuah sistem (baca : kampus), kadang ada hal-hal yang menjadi euforia tersendiri yang cukup indah untuk dikenang. Di penghujung semester pertama menjadi dosen muda (baca : baru) di UNY saya dan beberapa teman sejawat mengalami ini. Dan mungkin hal ini akan kamu alami ketika suatu saat nanti menjadi seorang dosen baru.

teman main, teman belajar, teman rumpi (pak dos, bu dos)

1.Ditegur Satpam saat Parkir

Biasanya, kampus-kampus memiliki kantong parkir yang berbeda antara dosen/karyawan/staff dan mahasiswa. Fakultas Ekonomi (FE) UNY sendiri, kantong parkir khusus dosen/staff berada di sisi barat gedung fakultas, sedangkan kantong parkir mahasiswa berada di sisi utara.

Umumnya, para satpam kenal dengan dosen/karyawan/staff yang biasa parkir motor di sisi barat. Hari kedua saya parkir di sana (waktu ikut Pekerti di LPPMP), seorang satpam mendatangi saya dan bertanya, “Mbaknya mau ke mana? Parkir khusus mahasiswa di sebelah sana.” hihi jegeerrr!!

Setelah kenalan #eaaa, kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi. Tapi ternyata, setelah empat bulan di FE, saya ditegur lagi oleh satpam yang berbeda saat mau menghadiri acara mahasiswa di ruang audit FE. Hikss… Ada yang pernah mengalami ini?

2.Dikira Senior Angkatan

Dua bulan pertama, saya masih canggung dipanggil “Bu Voe” oleh mahasiswa. Saya juga sering gelagapan saat memanggil Bapak/Ibu dosen senior dengan panggilan “Bapak/Ibu”, sebab di Ilkom UGM, dosen disapa dengan panggilan “Mas/Mbak”, sesepuh apapun dosennya.

Singkat cerita, ketika mau sholat di mushola lantai satu. Beberapa mahasiswa (yang bukan di jurusan saya) mempersilahkan saya untuk menjadi imam, “Mbaknya aja”. Uwuuuh… saya senyum-senyum. Masih pas lah ya dipanggil “mbak”. Ketika selesai sholat pun, kita ngobrol-ngobrol sebentar dan mereka tetap istiqomah memanggil saya, “mbak”.

3.Dikira Mahasiswa Yudisium

Setiap hari Jum’at, dresscode untuk para dosen dan karyawan UNY adalah atasan putih. Suatu Jum’at, saya menggunakan atasan putih, rok dan jilbab berwarna hitam. Di musholah lantai dua, saat ingin sholat dzuhur, saya bertemu dosen sepuh dari jurusan sebelah.

Kami saling menyapa dan bersalaman. Kemudian, beliau mengucapkan selamat, “Yudisium ya mbak? Selamat ya…” #eeeh… krik-krik. Bingung mau jawab apa. Saya baru ngeh kalau atasan putih, jilbab dan bawahan hitam adalah dresscode untuk acara Yudisium mahasiswa fakultas ekonomi.

Melihat saya kebingungan, si Ibu memperhatikan saya dan teriak, “Ealaaah… dosen baru ya!! hehe maaf ya Bu, tadi tak kira mahasiswa Yudisium.” #fuih #ngelapkeringat…

Jumat, 22 Desember 2017

Mudah Hapal dengan Metode Tikrar

Sebelumnya, saya sudah menulis tentang Al-Qur’an : Hapal tanpa Menghapal. Metode yang digunakan adalah metode tikrar, yaitu mengulang-ulang ayat yang ingin dihapal. Pada pelatihan Ahad (17/12) lalu, ustad Ulin Nuha selaku pemateri dan pelatih pelatihan “Hapal tanpa Menghapal” menyebutkan bahwa, fungsi menghapal Al-Qur’an adalah agar selalu ingat Al-Qur’an.

Allah telah menjanjikannya dalam Qur’an Surah Al-Qamar (54), bahkan sampai empat kali yang tertulis di ayat ke-17, 22, 32, dan 40. Al-Qur’an mudah dihapalkan dan mudah pula hilang. Hikmahnya agar Al-Qur’an harus dilafalkan dan diulang ulang terus. Menurut para ahli minimal dalam menghapal harus mengulang-ulang sebanyak 40 kali.

Saya menulis ini bukan karena saya hafidzha. Dengan menulis ini, saya berharap dapat mengingatkan diri sendiri, jika suatu saat nanti butuh re-charge diri. Baiklah mari kita langsung buka Qur’an Tikrar QS. Luqman (31) ayat 12. Ayat ke-12 berada di lembar sebelah kiri paling atas.

Al-Quran Tikrar

Pertama, mari kita praktekkan Quran Tikrar ini dengan membaca QS. Luqman ayat 12 sebanyak 5 kali. Ingat!! BACA! Artinya adalah mata kita tetap fokus melihat huruf demi huruf pada ayat 12. Pengulangan sebanyak lima kali baru untuk melancarkan lisan. Setelah itu beri tanda bintang di kotak pertama.

Catatan : usahakan sebelum menghapal Al-Qur’an kita sudah lancar membacanya ya! Perhatikan makhrojul huruf, tajwid, dsb. Disarankan untuk belajar tahsin terlebih dahulu.

Al-Qur’an : Hapal tanpa Menghapal

Siapa yang tak mau mempersembahkan mahkota kehormatan untuk orang tua ketika di akhirat? Allah telah menjanjikan hadiah jubah dan mahkota bagi orang tua yang anaknya hapal (menghapal) Al-Qur’an ketika di dunia.

Bekerja sama dengan Syamiil Qur’an, bunda-bunda Salimah mengadakan pelatihan Menghapal Al-Qur’an dengan metode Tikrar. Tikrar (baca : tikror) merupakan metode pengulangan. Ketika kita bercita-cita menjadi penghapal Al-Qur’an, maka pekerjaan sehari-hari yang harus kita lakukan adalah mengulang-ngulang hapalan, terus dan terus hingga akhirnya meninggal dunia.

Sederhananya, menurut para ahli, metode menghapal yang paling efektif adalah mengulang dan mengulang terus dan menerus hingga hapal. Menghapal tanpa pengulangan memang akan berdampak hapal. Namun, hapalnya tidak lama. Oleh karena itu, metode tikrar adalah metode yang efektif untuk menghapal Al-Qur’an akan hapalannya mutqin.

Al-Qur'an Tikrar
Metode tikrar memang terkesan lama dan melelahkan (karena harus mengulang-ulang), tapi membaca terus dan terus tanpa menghapal ini efektif untuk membuat hapalan jangka panjang. Berikut tips sebelum memulai menghapal dengan metode tikrar;

1. Awali dengan wudhu sebelum memulai.
2. Malam hari (sebelum tidur) ayat yang rencananya akan dihapal, dibaca terlebih dahulu. Tujuannya untuk membuat lebih familiar dengan ayat tersebut. Kemudian, pahami tafsirnya. Ayat ini ngomong tentang apa sih? Ayat ini cerita tentang apa sih?
3. Sebelum mulai cobalah mengatur nafas 4-2-3. 4 detik menarik nafas, 2 detik tahan, 3 detik hembuskan nafas.
4. Minumlah air putih (bening), jangan lupa pakai Bismillah.
5. Posisi duduk siap siaga (kedua kaki ditekuk dan telapak kaki di duduki).
6. Lakukan metode tikrar (mengulang-ngulang terus dan terus)

Lalu bagaimana caranya menggunakan metode tikrar?

Dalam pelatihan ini, setiap peserta pelatihan diberi Al-Qur’an Tikrar. Alhamdulillah saya juga dapat satu. Al-Qur’an Tikrar adalah Al-Quran keluaran Depag (bukan Utsmani, so cukup mudah dilafalkan bagi orang Indonesia yang terbiasa menggunakan kaligrafi Depag). Di sisi kanan kirinya (samping ayat) terdapat kotak-kotak yang digunakan sebagai penanda kita untuk menghapal.

Ustad Ulin Nuha menyampaikan materi
Ohya, sebelum menggunakan Al-Qur’an Tikrar cobalah kita renungkan ayat Al-Qur’an berikut;

“Dan sungguh, telah kami MUDAHkan Al-Qur’an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil PELAJARAN?”

Dalam Al-Qur'an, Allah mengulang sebanyak empat kali dalam Surah Al-Qomar tentang kemudahan menghapal Al-Qur'an, yaitu di ayat ke-17, 22, 32, dan 40.

Lalu kemudian tanya;

27 nih, Kapan Nikah?

“ Apa lagi yang dicari? ” Tanya sopir go-car  padaku saat aku menumpang mobilnya untuk diantar ke hotel dimana sepupuku dan suaminya meng...