Sabtu, 25 Agustus 2018

27 nih, Kapan Nikah?

Apa lagi yang dicari? Tanya sopir go-car padaku saat aku menumpang mobilnya untuk diantar ke hotel dimana sepupuku dan suaminya menginap dalam rangka berbulan madu di Jogja. Ini adalah pertanyaan kesekian dari sekian orang padaku.

“Voe, kamu lulus udah, kerja juga udah. Apa lagi?” Tanya teman-temanku untuk kesekian kalinya. Ntah saat moment santai, ataupun sedikit serius.

“Jangan terlalu pilih-pilihlah.” Komentar yang lain padaku, ntah ini yang keberapa kalinya orang-orang berkomentar.

“Oh udah kepikiran buat nikah? Kirain gak mau. Hahaha…” Canda yang lain ketika aku meminta mereka mendoakanku agar segera menyusul mereka untuk menikah.

Senin, 23 April 2018

Bandung : Conferense on Media. Ketika yang Ku dapat, Tak Hanya Sedekar Komunikasi


Bandung adalah pintu awal dari ketertarikanku akan conferense. Benar kata para seniorku di jurusan, jika aku tak memulainya, aku tak akan pernah memulainya.

Melanjutkan seminar ini sebagai presenter sempat membuatku ragu. Selain paper yang belum maximal 100%, biaya pendaftarannya pun mahal. Ya, maklumlah untuk sebuah seminar standar international dan terindeks Thomson dan Scopus. Rp 2,5 juta tentulah wajar.

Sholat sudah dijalankan, berharap Allah buka pintunya jika memang Dia izinkan untuk melanjutkan seminar. Masyaa Allah… benar… Allah benar-benar buka pintunya lewat kemudahan-kemudahan yang Dia berikan.


Alhamdulillah setelah selesai membuat Conferense Report, saya menyempatkan untuk menulis pengalaman belajar selama di Asia Afrika, Bandung.

Minggu, 11 Maret 2018

Rangkaian Test Calon Dosen (2) : Tips Menghadapi Tes Microteaching Calon Dosen

Tes micro teaching merupakan salah satu dari serangkaian tes yang biasanya dipersyaratkan kampus untuk para calon dosen. Micro teaching adalah sebuah kegiatan simulasi belajar mengajar dimana seolah-olah kita adalah seorang dosen yang sedang mengajar.

Barangkali untuk lulusan non pendidikan, microteaching adalah sesuatu hal yang baru. Tapi, bukan tidak mungkin lulusan non pendidikan bisa menguasai panggung microteaching.

Di tulisan kali ini, berdasarkan request teman yang bertanya gimana menghadapi test microteaching untuk para calon dosen, maka saya coba tulis di sini.

Sebelumnya saya pernah microteaching dua kali (kampus swasta dan kampus negeri) yang cenderung umum (bukan kampus Islam). Tulisan ini berdasarkan pengalaman pribadi saya, serta cerita dari teman-teman yang pernah mengalami langsung.  Apa aja itu? Selamat membaca!

1. Berpikir Positif

Sering dengar jika microteaching hanyalah sebuah formalitas saja? Pernah berpikir jika sebenarnya sudah ada nama yang di-’pegang’ oleh para penguji dan Anda hanyalah peserta  ‘hore-hore’ yang menambah panjang daftar peserta seleksi? Jika hal ini sudah ada dibenak Anda, maka saran saya cobalah istighfar dan berpikirlah positif.

Hasil gambar untuk berpikir positif
Source : Berpikir Positif
Jika Anda sudah berpikir seperti itu sedari awal, lalu untuk apa Anda nekat melakukan tes administrasi hingga akhirnya lanjut ke tes microteaching? Barangkali ‘iya’ ada kampus yang melakukan rekrutmen untuk sekedar formalitas. Tapi, ketahuilah bahwa TIDAK SEMUA kampus seperti itu. Tidak semua kampus memberlakukan “ORANG DALAM”. hehe

Jumat, 09 Maret 2018

Rangkaian Test Calon Dosen (1), Apa Sih yang Harus Dipersiapkan?

Hay hay… terima kasih ya sudah berkunjung (read:nyasar) ke blog ini. Ada yang bakal lulus kuliah di 2018?! Barangkali ada diantara Anda adalah mahasiswa pascasarjana (S2 & S3) yang sudah lulus dan mau mengabdikan ilmunya untuk pendidikan bangsa, alias menjadi dosen? Cung Ngacung!!

Bagi yang sudah ditawari mengajar, waah selamaaaat!!! Anda tinggal menyesuaikan diri. 

Nah, bagi yang belum ditawari tempat mengajar dan masih mencari tempat untuk mengajar, semoga tulisan ini dapat membantu mencari tahu bagaimana rangkaian test calon dosen.

Doc Pribadi
Ok, sudah tahu kalo dosen itu ada jenisnya? Hehe… Jadi, dosen itu ada jabatan fungsional dan ada juga berdasarkan status kerja. Untuk status; ada dosen Luar Biasa, Dosen Kontrak, dan Dosen Tetap. Monggo berkunjung dulu ke tulisan saya disini, untuk mencari tahu perbedaannya.

Nah!! tulisan ini lebih membahas bagaimana rangkaian test dosen kontrak atau tetap non PNS ya. Sebab, si penulis belum pernah ikut test PNS dosen, jadi belum ada pengalaman nih buat berbagi.

So, gimana rangkaian test dosen dan apa aja yang harus dipersiapkan?

Pertama, yang perlu Anda ketahui, setiap kampus memiliki keunikan tersendiri dalam rekruitmen calon dosen mereka. Ada yang langsung rekruitmen dosen tetap non PNS, ada yang bertahap dari kontrak dulu. Selain itu, setiap kampus juga punya kebijakan masing-masing dalam rangkaian rekruitmennya sesuai dengan kebutuhannya.

Rabu, 28 Februari 2018

Dream yang Terucap dan Dream yang Tertulis

Repost tulisan 3 tahun yang lalu.
Untuk menjadi pengingat diri sendiri.
Tulisan ini pula kupersembahkan untuk teman satu geng, BRIGADE 09.
Yang alhamdulillah, satu persatu telah ditemukan belahan jiwa-nya.


---------)I(---------

“Assalamu’alaykum Wr. Wb. Nama saya Hajjah Voettie.” Salamku sebagai pengantar pertanyaan yang akan kulayangkan pada seorang Ustad yang selama ini hanya kulihat dari layar kaca.

“Wa’alaykumusalam. Masya Allah… ini belajar ini!!!!” Serunya menjawab salamku. Aku tersenyum. Sebenarnya, aku memakai kata ‘Hajjah’ di depan namaku adalah sebab musebab sebuah ‘doa’ yang menjadi dream yang terucap dan dream yang tertulis, yang merupakan tema dari pengajian kali ini. Pengajian yang dilaksanakan oleh Humairo, Jogja.

Brosur Pengajian Humairo Jogja 2-5-2015

Minggu, 18 Februari 2018

Social Experiment : Cinta, Terima Kasih, Maaf


“Cinta. Terima Kasih. Maaf” Tiga kata sederhana kaya makna. Tiga kata yang membuat memoriku mampir ke beberapa bagian dari kisah hidupku.

---

1st Social Experiment : Cinta, Terima Kasih, Maaf
Aku membuka kelas Komunikasi D3 Sekretaris dengan memberikan social experiment mengenai kata ‘Cinta, Terima Kasih, Maaf’. Ketiga kata ini menjadi pengantar dari kelas komunikasiku. Mahasiswa harus menyampaikan kata cinta, terima kasih, dan maaf kepada orang tua atau wali yang telah membesarkan mereka.

[Mungkin] bagi sebagian orang, mengucapkan tiga kata tersebut mudah. Namun, bagi sebagian yang lain, mengucapkan ketiga kata tersebut, terlebih kepada orang tua itu tidak mudah. Malu, takut, gengsi. Begitu sekiranya hambatan yang dirasa.

Aku memberikan tantangan kepada mahasiswa untuk menyampaikannya kepada orang tua atau wali. Selama satu minggu, mereka harus menyampaikannya minimal tiga kali. Kemudian, menuliskan pengalaman, kesan, atau apa saja yang mereka dapatkan ke dalam sebuah paper.

Dari tulisan itu, aku berharap mereka dapat menjawabnya. Menjawab pertanyaan, mengapa tiga kata ini menjadi pengantar kelas komunikasiku? Mengapa?

Aku membaca paper yang mereka tuliskan dari hasil dari social experiment. Ada sekitar 70-an paper dan kubaca satu persatu. Sebagian besar paper membuatku tersenyum, sebagian kecil membuatku terharu, dan beberapa membuatku sedikit histeris dan meneteskan air mata.

Ada yang berhasil menjawab pertanyaanku melalui kisah-kisah yang mereka tuliskan setelah mengucapkan tiga kata ajaib ini ke orang tua mereka. Namun, aku yakin mereka belum sadar sepenuhnya mengapa aku memberikan social experiment ‘Cinta, Terima Kasih, Maaf’ sebagai pengantar kelas Komunikasi.

Senin, 01 Januari 2018

Silahkan “Mengolok” Orang Lain, Jika Ingin Menjadi Seperti Orang yang Kau Olok

Wuih rada serem ya judulnya… hehe… Aku lagi bahagia banget ini. Sebab, teman sekos yang sering “mengolok-ngolokku” tiap melihatku pulang dari kampus, sekarang ikutan kena batunya.

Loh kok bahagia? Iya donk!! #ketawajahat

Kisah olok mengolok ini dimulai sejak aku tinggal di Annida Islamic Boarding House. Annida yang multikultural ini, tidak hanya menampung mahasiswa. Tapi juga mantan mahasiswa yang telah menjadi dosen. Saat itu, ada sekitar tiga orang dosen muda yang tinggal di Annida.

gambar ngambil disini

 Tiap bertemu dengan mereka aku sangat sering menyapanya, “Assalamu’alaykum Bu Dosen.”

Kadang kalau mereka pulang larut, “Masyaa Allah Bu Dosen, kerja sampe malam. Beuuh!!”

Atau jika sedang bertemu di dapur, “Masyaa Allah Bu Dosen rajin banget, masak sendiri. Lagi libur bu? Gak ngajar, Bu? Blablabla…”

Di lain kesempatan, “Udah mulai ujian, Bu, mahasiswanya?”

Pas weekend, “Bu Dosen weekend pun kerja?! Luar biasaaaaa!”

Aku tiba-tiba ingat tiga orang wajah dosen muda di Annida yang sering ku-rempong-in ini. Aku tak bermaksud jahat. Tidak pernah bermaksud mengolok-olok, walaupun kadang terkesan seperti itu. Syukurnya, mereka gak pernah tersinggung. Karena, yaaa mereka tahu lah yah. Paling sesekali bilang, “Duuuh, Voe.. panggilnya biasa aja dong.”

Perilaku seperti ini sering aku lakukan selama aku tinggal di Annida.

September 2017, saat SK-ku turun dan sedang PEKERTI. Bertepatan saat itu sedang ada acara di Masjid Nuris, aku silaturahim. Beberapa teman Annida menyapaku, “Masyaa Allah, bu dosen. Kelihatannya capek banget, Bu.” Barangkali memang terlihat capek. PEKERTI kadang ga kenal istirahat, buww…

Dipanggil seperti itu, aku protes, “Ih mbak, biasa aja.” Sambil memperlihatkan muka yang tambah tembem karena capek dan sok merajuk.

27 nih, Kapan Nikah?

“ Apa lagi yang dicari? ” Tanya sopir go-car  padaku saat aku menumpang mobilnya untuk diantar ke hotel dimana sepupuku dan suaminya meng...